Tragedi di Desa Saptorenggo: Satu Keluarga Tewas, Diduga Bunuh Diri
Kejadian memilukan mengguncang Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Tiga anggota keluarga ditemukan tewas di rumah mereka, diduga akibat bunuh diri. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam dan menimbulkan pertanyaan besar terkait motif di balik tindakan tragis tersebut. Polisi kini tengah bekerja keras mengungkap misteri yang menyelimuti kematian satu keluarga ini.
Kronologi Kejadian dan Penemuan Jenazah
Kejadian pertama kali diketahui oleh AKE, anak perempuan korban yang berusia 12 tahun. Ia meminta bantuan kepada tetangga setelah menyadari kondisi orang tuanya yang tidak beres. Tetangga yang datang kemudian menemukan tiga korban dalam satu kamar. WE, sang ayah (43 tahun), mengalami luka sayat di tangan kiri. Meskipun sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tidak tertolong.
Istri WE, S (40 tahun), dan anak kembarnya, ARE (12 tahun), juga ditemukan sudah meninggal di tempat kejadian. Kondisi kedua jenazah perempuan ini cukup mengagetkan. Petugas menemukan mulut mereka mengeluarkan busa dan berbau menyengat. Tidak jauh dari mereka, terdapat gelas dan bungkus obat nyamuk cair. Dugaan sementara, mereka meninggal akibat keracunan.
Motif Bunuh Diri Masih Menjadi Misteri
Polisi dari Satreskrim Polres Malang, AKP Gandha Syah Hidayat, menyatakan bahwa penyelidikan masih terus berjalan. Motif di balik peristiwa ini masih dalam tahap pendalaman. Meskipun dugaan sementara mengarah pada bunuh diri, polisi belum bisa memastikannya hingga semua bukti dan keterangan saksi terhimpun.
Keterangan dari AKE, anak korban yang selamat, turut membantu mengungkap kronologi kejadian. Menurutnya, sekitar pukul 03.00 WIB, sang ayah membangunkan ARE untuk tidur bersama ibu mereka. Ketiga korban kemudian berada dalam satu kamar. AKE sendiri melanjutkan tidur dan baru terbangun saat sudah siang. Setelah mencoba membangunkan orang tuanya dan tidak mendapat respons, AKE kemudian meminta pertolongan kepada tetangganya.
Pesan Terakhir dan Pendampingan Psikologis
Di tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan pesan yang diduga ditulis oleh WE. Pesan tersebut ditujukan kepada AKE, anak perempuannya yang masih hidup. Isi pesan tersebut meminta AKE untuk menjaga diri dengan baik dan patuh kepada neneknya. Tulisan tersebut mirip dengan tulisan tangan WE yang berprofesi sebagai guru. Pesan tersebut juga menyinggung soal uang untuk biaya pemakaman.
Saat ini, AKE berada dalam pengawasan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Malang serta mendapatkan pendampingan dari psikolog. Langkah ini penting untuk memberikan dukungan psikososial kepada AKE yang kehilangan orang tuanya secara tragis. Polisi berupaya memberikan perlindungan dan memastikan keselamatannya.
Langkah-Langkah Penanganan Kasus
- Polisi melakukan olah TKP secara detail untuk mengumpulkan bukti-bukti yang dibutuhkan.
- Keterangan saksi, termasuk AKE, masih terus didalami untuk melengkapi kronologi kejadian.
- Proses autopsi akan dilakukan untuk memastikan penyebab kematian ketiga korban.
- Penyelidikan lebih lanjut terkait motif bunuh diri tengah dilakukan.
- Pendampingan psikologis untuk AKE terus diberikan.
Kasus ini menjadi sorotan dan menyisakan pertanyaan besar. Semoga penyelidikan polisi dapat mengungkap motif di balik tragedi ini secara tuntas. Lebih penting lagi, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Bagi Anda yang membutuhkan bantuan terkait masalah kesehatan mental, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Semoga kejadian ini tidak terulang kembali.






