Serangan terbaru Israel di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa. Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan tragedi memilukan di mana sebuah gedung sekolah yang menampung warga sipil Palestina menjadi sasaran serangan. Insiden ini menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Palestina.
Jumlah korban tewas akibat serangan tersebut mencapai angka yang mengkhawatirkan. Peristiwa ini kembali memicu kecaman internasional terhadap tindakan Israel.
Serangan Mematikan di Sekolah Pengungsian
Ahmad Radwan, Juru Bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, menyampaikan bahwa serangan Israel telah menewaskan 31 orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan tersebut terjadi di sebuah sekolah yang menjadi tempat berlindung bagi warga sipil terlantar di kamp pengungsian Bureij, Gaza tengah.
Pihak Israel memberikan penjelasan berbeda mengenai insiden tersebut. Mereka mengklaim bahwa gedung yang diserang merupakan pusat komando dan kendali Hamas yang digunakan untuk menyimpan senjata.
Pernyataan Berbeda dari Pihak Israel dan Kecaman Internasional
Militer Israel menyatakan bahwa operasi militer mereka menargetkan pusat komando dan kendali Hamas. Mereka meyakini bahwa gedung sekolah tersebut digunakan oleh kelompok Hamas sebagai basis operasi.
Pernyataan ini langsung menuai kecaman internasional. Rencana Israel untuk memperluas serangan ke Gaza, bahkan disertai seruan dari menteri keuangan sayap kanan untuk “menghancurkan” wilayah Palestina, semakin memperkeruh suasana.
Kecaman meluas karena gedung sekolah tersebut diketahui menjadi tempat perlindungan bagi warga sipil yang telah kehilangan tempat tinggal akibat konflik berkelanjutan.
Konflik Berkelanjutan dan Kebuntuan Negosiasi Gencatan Senjata
Konflik di Gaza telah memaksa hampir seluruh 2,4 juta penduduknya untuk mengungsi setidaknya sekali selama perang yang dimulai sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel.
Upaya perdamaian hingga kini masih menemui jalan buntu. Hamas menolak pembicaraan gencatan senjata dengan Israel, menuduh Israel melakukan “perang kelaparan” di Gaza.
Serangan militer Israel yang berkelanjutan ini mengakhiri gencatan senjata selama dua bulan yang sempat memberikan harapan bagi perbaikan situasi kemanusiaan di Gaza. Gencatan senjata sebelumnya telah memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan dan pembebasan sandera.
Kebuntuan negosiasi dan serangan terus-menerus ini semakin mempersulit upaya penyelesaian konflik dan menimbulkan kekhawatiran akan semakin banyaknya korban jiwa di masa mendatang.
Tragedi jatuhnya korban jiwa di sekolah pengungsian menjadi simbol kekejaman konflik yang berkepanjangan. Perlu upaya internasional yang lebih kuat untuk mendorong perundingan damai dan memastikan perlindungan warga sipil di tengah konflik ini. Ke depan, diperlukan mekanisme yang lebih efektif untuk mencegah terulangnya insiden serupa dan memastikan perlindungan bagi penduduk sipil.






