Ledakan amunisi di Garut, Jawa Barat, pada Senin, 12 Mei 2025, yang menewaskan 13 orang, menyoroti fakta mengejutkan bagi banyak orang: amunisi memiliki masa kedaluwarsa.
Kejadian tersebut terjadi saat proses pemusnahan amunisi tak layak pakai milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) oleh Gudang Pusat Amunisi (Gupusmu) III Peralatan TNI AD di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong. Insiden ini menjadi pembelajaran penting tentang pentingnya manajemen dan penanganan amunisi yang tepat.
Amunisi: Bukan Selamanya Awet
Berbagai jenis amunisi, mulai dari peluru pistol hingga rudal balistik, memiliki masa pakai terbatas. Hal ini dikarenakan amunisi merupakan produk kimia yang mengandung bahan peledak dan propelan.
Bahan-bahan tersebut mengalami perubahan seiring waktu, meskipun penyimpanan yang tepat dapat memperpanjang masa pakainya. Faktor kunci lainnya adalah kondisi penyimpanan, termasuk kelembapan, suhu, dan paparan cahaya.
Penyimpanan yang baik dapat membuat amunisi bertahan lama, namun tetap ada batasnya. Ketepatan dalam penyimpanan menjadi krusial untuk memastikan keamanan dan fungsi amunisi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Masa Simpan Amunisi
Masa simpan amunisi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Lokasi penyimpanan, tingkat kelembapan, fluktuasi suhu, dan paparan cahaya semuanya berperan penting.
Selain itu, kondisi penyegelan amunisi dan jenis material selongsong (timah atau baja) juga mempengaruhi masa simpannya. Amunisi modern dirancang untuk bertahan lebih dari satu dekade jika disimpan dengan benar.
Namun, masa simpan yang tepat sebenarnya relatif dan tergantung pada berbagai faktor, termasuk kualitas bahan baku, metode pemuatan, jenis bubuk mesiu, primer, dan sealant yang digunakan produsen.
Amunisi berselubung baja lebih mudah berkarat daripada amunisi berselubung kuningan. Peluru dengan timah terbuka juga lebih rentan mengalami degradasi dibandingkan peluru dengan selongsong logam penuh.
Risiko Penggunaan dan Pemusnahan Amunisi Kedaluwarsa
Bubuk mesiu dalam amunisi lama dapat kehilangan potensi daya ledaknya. Hal ini menimbulkan beberapa risiko serius, baik saat digunakan maupun dimusnahkan.
- Gagal tembak: Ini adalah efek samping paling umum dari amunisi usang. Peluru mungkin tidak meletus saat ditembakkan.
- Kristalisasi bahan peledak: Proses kimiawi dapat membentuk kristal peledak, meningkatkan daya ledak amunisi dan berpotensi merusak senjata api.
- Reaksi asam: Pembakaran amunisi usang dapat menghasilkan asap asam yang merusak senjata api.
- Penggumpalan bubuk mesiu: Ini mengurangi kinerja amunisi dan dapat menyebabkan kegagalan fungsi yang berbahaya dan tidak terduga.
Ledakan di Garut merupakan contoh nyata dari bahaya yang ditimbulkan oleh amunisi yang tidak terkelola dengan baik. Pentingnya pengawasan, penyimpanan, dan pemusnahan amunisi yang sesuai standar keamanan sangat krusial untuk mencegah tragedi serupa.
Kejadian ini menekankan perlunya peningkatan kesadaran publik dan penerapan standar yang lebih ketat dalam pengelolaan amunisi, baik oleh pihak militer maupun sipil. Standar penyimpanan dan pemusnahan yang tepat harus diterapkan untuk menghindari tragedi serupa di masa mendatang.






