Permintaan penumpang pesawat akan jatah makanan tambahan telah memicu perdebatan sengit di dunia maya. Sebagian netizen menganggapnya sebagai perilaku kurang sopan, bahkan “mental pengemis,” sementara yang lain melihatnya sebagai tindakan wajar yang dapat mencegah pemborosan makanan.
Perdebatan ini bermula dari unggahan di platform X yang memberikan tips perjalanan, menyarankan penumpang untuk meminta makanan sisa kepada pramugari. Pengguna tersebut berpendapat bahwa makanan yang tak terpakai akan dibuang, sehingga lebih baik dikonsumsi penumpang yang masih lapar.
Praktik Umum dalam Dunia Penerbangan
Lalu, bagaimana sebenarnya praktik ini di dunia penerbangan? Sebuah wawancara dengan juru bicara Virgin Atlantic yang dikutip dari Tasting Table mengungkapkan bahwa maskapai tersebut hampir selalu memenuhi permintaan makanan tambahan dari penumpang.
Hal ini berlaku tidak hanya untuk camilan seperti kacang atau keripik, tetapi juga untuk makanan berat. Jika ada sisa makanan setelah layanan utama, maskapai akan dengan senang hati memberikannya kepada penumpang yang menginginkannya.
Kebijakan serupa juga diterapkan oleh sejumlah maskapai penerbangan lain. Namun, ada kesepakatan umum bahwa permintaan sebaiknya diajukan setelah semua penumpang telah dilayani.
Pengecualian dan Pertimbangan Penting
Meskipun sebagian besar pramugari bersedia memberikan makanan sisa untuk mengurangi pemborosan, ada beberapa pengecualian yang perlu diperhatikan.
Penumpang kelas ekonomi, misalnya, tidak dapat mengharapkan makanan kelas satu secara cuma-cuma. Maskapai hanya menyiapkan jumlah makanan tertentu untuk setiap kelas, menyesuaikan dengan harga tiket dan menu yang ditawarkan.
Saat meminta makanan tambahan, terimalah apa yang tersedia. Meskipun beberapa maskapai mengizinkan pilihan menu sebelum penerbangan, tidak banyak penyesuaian yang dapat dilakukan setelah penumpang sudah duduk.
Perlu diingat bahwa beberapa maskapai, terutama maskapai berbiaya rendah pada penerbangan jarak pendek, tidak menyediakan makanan gratis. Makanan hanya bisa dibeli di dalam pesawat, bahkan pada penerbangan jarak jauh.
Nasib Makanan Sisa dalam Penerbangan
Makanan sisa dalam penerbangan biasanya dibuang dan dimusnahkan. Makanan tersebut seringkali tidak dikompos dan berakhir sebagai sampah, meskipun belum dibuka.
Hal ini dikarenakan makanan sisa dianggap terkontaminasi dan berpotensi menyebarkan penyakit. Kebijakan ini merupakan standar di industri penerbangan internasional maupun domestik.
Makanan sisa umumnya diangkut ke fasilitas terdekat untuk dibakar atau dimusnahkan. Ada upaya dari beberapa maskapai untuk mengurangi pemborosan makanan.
Contohnya, Cathay Pacific mengirim sisa makanan ke fasilitas pengolahan menjadi pakan ikan. Namun, hambatan regulasi dan risiko keracunan makanan masih menjadi tantangan dalam upaya donasi makanan sisa ke bank makanan.
Upaya Mengurangi Sampah Makanan di Penerbangan
Maskapai penerbangan juga mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk meminimalisir limbah makanan. AI membantu memprediksi jumlah penumpang dan memesan makanan sesuai kebutuhan, mengurangi pemborosan.
Penumpang juga dapat berkontribusi dengan memesan makanan di pesawat terlebih dahulu. Namun, perlu diingat bahwa biaya tambahan untuk makanan dapat mengurangi jumlah pemesanan.
Perbedaan rasa makanan di pesawat sering membuat penumpang kesulitan menghabiskan semuanya. Tips sederhana untuk mengatasi hal ini adalah membawa saus favorit dalam wadah kecil untuk menambah cita rasa.
Audit IATA dan beberapa maskapai menunjukkan bahwa 20-25% limbah kabin merupakan makanan dan minuman yang tidak tersentuh, mengakibatkan kerugian miliaran dolar bagi maskapai.
Kesimpulannya, permintaan makanan tambahan di pesawat memicu perdebatan, namun upaya mengurangi pemborosan makanan terus dilakukan, baik oleh maskapai maupun penumpang. Kesadaran dan tindakan bijak dari semua pihak sangat penting untuk meminimalisir dampak lingkungan dari industri penerbangan.






