Perkelahian antara dua pedagang kopi gerobak dorong di Jalan Raya Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, baru-baru ini menjadi viral di media sosial. Video yang beredar memperlihatkan salah satu pedagang mengalami luka di tangan dan wajah akibat insiden tersebut.
Kejadian ini bermula dari cekcok mulut, atau yang disebut polisi sebagai “ceng-cengan,” antara kedua pedagang yang ternyata bekerja di tempat yang sama. Polisi setempat telah melakukan penyelidikan dan menemukan fakta di balik perkelahian tersebut.
Perkelahian Diduga Berawal dari Ejekan
Menurut Kapolsek Kembangan, Kompol M. Taufik Iksan, perkelahian tersebut dipicu oleh ejekan di antara kedua pedagang kopi. Mereka terlibat pertengkaran yang kemudian berujung pada aksi saling pukul.
Korban dan pelaku sama-sama berprofesi sebagai pedagang kopi gerobak dorong dan bekerja di lokasi yang sama. Ini menjadi faktor yang mempermudah proses penyelidikan oleh pihak berwajib.
Proses Penyelesaian Internal Perusahaan
Meskipun video perkelahian tersebut viral, korban belum membuat laporan resmi ke polisi. Pihak kepolisian telah melakukan penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP).
Kepolisian juga telah berkoordinasi dengan pihak Human Resources Department (HRD) tempat kedua pedagang tersebut bekerja. Kasus ini tampaknya sedang ditangani secara internal oleh perusahaan.
Taufik menegaskan bahwa pihak kepolisian sudah bertemu dengan korban dan pelaku. Proses penyelesaian konflik terus berjalan di luar jalur hukum formal.
Kronologi Peristiwa dan Kondisi Korban
Dalam video yang beredar, terlihat seorang pria dikelilingi warga di pinggir jalan. Pria tersebut tampak terluka di jari tangan dan terdapat goresan di wajahnya.
Video memperlihatkan korban sibuk membersihkan luka di jari tangannya menggunakan kain. Kondisi korban yang mengalami luka menjadi perhatian publik setelah video tersebut tersebar luas di media sosial.
Meskipun belum ada laporan resmi, kejadian ini menyoroti pentingnya manajemen konflik di tempat kerja dan bagaimana dampaknya dapat meluas ke ranah publik.
Kejadian ini menjadi pengingat betapa pentingnya pengendalian emosi dan penyelesaian konflik secara damai, terutama di lingkungan kerja. Semoga kasus ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar kejadian serupa dapat dihindari di masa mendatang. Pihak kepolisian dan perusahaan terkait diharapkan dapat terus memantau perkembangan kasus ini dan memastikan penyelesaian yang adil dan sesuai prosedur.






