Krisis Apresiasi Sastra Indonesia: Guru Besar UGM Ungkap Penyebabnya

Redaksi

Krisis Apresiasi Sastra Indonesia: Guru Besar UGM Ungkap Penyebabnya
Sumber: Liputan6.com

Menjadi sastrawan di Indonesia bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak yang beranggapan bahwa menulis karya sastra merupakan panggilan jiwa semata, tanpa mempertimbangkan aspek ekonomi.

Guru Besar Sosiologi Sastra UGM, Aprinus Salam, mengungkapkan realita pahit yang dihadapi para sastrawan. Mereka jarang dapat mencukupi kebutuhan hidup hanya dari hasil karya sastra mereka.

Tantangan Ekonomi Sastrawan Indonesia

Menurut Aprinus, kesuksesan ekonomi seorang sastrawan sangat bergantung pada kemampuannya menembus pasar komersial. Persyaratan komersial ini dinamis dan terus berubah, membuat prediksi keberhasilan karya sastra menjadi sulit.

Ia menambahkan, tidak semua karya sastra dapat dikomersilkan dengan baik. Keberhasilan sangat dipengaruhi oleh selera pasar yang terus berubah.

Hambatan Struktural dan Kultural

Aprinus mengungkapkan beberapa hambatan utama yang dihadapi sastrawan. Pertama, penghargaan yang rendah dari pemerintah dan masyarakat terhadap karya sastra.

Kedua, asumsi umum yang menganggap sastra sebagai hal yang kurang penting. Karya fiksional dianggap kurang berdampak dibandingkan karya-karya di bidang lain.

Ketiga, sastrawan dituntut untuk menghasilkan karya yang berkualitas tinggi dan mampu “mengganggu” atau “mengintervensi” persepsi umum tentang sastra.

Bahkan, larangan terhadap karya sastra di masa lalu—walaupun meningkatkan popularitas buku—tidak serta merta meningkatkan kesejahteraan penulis karena royalti yang masih sangat kecil.

Solusi dan Harapan untuk Masa Depan Sastra Indonesia

Aprinus menyarankan beberapa solusi. Pemerintah dan lembaga budaya dapat memberikan hibah, membeli karya sastra berkualitas dengan harga layak, dan meningkatkan royalti penulis.

Dukungan dari para donatur juga sangat penting. Hibah dapat membantu sastrawan fokus berkarya tanpa memikirkan beban ekonomi keluarga.

Namun, ia mengakui bahwa hal ini sangat bergantung pada meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap sastra.

Harapan Aprinus untuk 5-10 tahun ke depan adalah kemajuan sastra Indonesia yang pesat, serta peningkatan kesejahteraan para sastrawannya.

Ia menekankan bahwa karya sastra merupakan produk bangsa, bukan hanya karya individu. Keunggulan suatu bangsa tercermin dari keunggulan sastranya, dan karya-karya unggul membutuhkan dukungan dari semua pihak.

Kesimpulannya, memajukan sastra Indonesia membutuhkan usaha bersama. Pemerintah, masyarakat, dan para pelaku sastra harus bekerja sama untuk memberikan apresiasi dan dukungan yang lebih besar kepada para sastrawan, agar mereka dapat berkarya tanpa harus terbebani masalah ekonomi. Hanya dengan demikian, sastra Indonesia dapat berkembang dan mencerminkan keunggulan bangsa.

Also Read

Tags

Leave a Comment

Slot Maxwin
Live RTP
Slot Dana
https://www.sinamism.com
SLOT367
SLOT367 SLOT367 slot367 gajah55 gajah55 gajah55 https://linktr.ee/SLOTS367ID https://heylink.me/SLOT367_ID/ https://stmik-indonesia.ac.id
https://stiemuarateweh.ac.id https://www.nhm.ac.id https://unidaaceh.ac.id/ https://www.upgrismg.ac.id https://stmt-trisakti.ac.id https://stikfamika.ac.id https://journal.iaialhikmahtuban.ac.id toto macau auto7slot link login auto7slot https://heylink.me/sejoli76/ https://sejoli76.it.com/ sejoli76 sejoli76 sejoli76 Sejoli76 Mpo Slot https://akarweb.lotsgroup.com/ https://signere.keyforce.no/ https://pimeditor.damensch.com/ https://waynestakeaway.rshosting.no/ https://testlogin2.giftedmatrix.net/ https://api.hrp.test.ibasis.co.uk/