Perang singkat namun intens antara Israel dan Iran telah berakhir setelah 12 hari. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengumumkan penghentian permusuhan pada Selasa, 24 Juni 2025. Pengumuman ini menyusul seruan gencatan senjata dari Presiden AS Donald Trump, yang mendesak kedua negara untuk menghentikan serangan balasan yang saling melukai. Perang ini menandai babak baru ketidakstabilan di Timur Tengah dan menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut.
Perang dimulai dengan serangan mendadak Israel terhadap sejumlah target di Iran, termasuk fasilitas nuklir. Serangan ini memicu reaksi keras dari Iran, yang kemudian membalas dengan serangan rudal. Konflik tersebut berkembang dengan cepat, melibatkan serangan udara dan darat yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang meluas.
Kronologi Perang 12 Hari Israel-Iran
Perang Israel-Iran yang berlangsung selama 12 hari diawali dengan serangan udara besar-besaran yang diluncurkan oleh Israel pada Jumat dini hari, 13 Juni 2025. Lebih dari 100 target di Iran menjadi sasaran, termasuk fasilitas nuklir vital di Natanz dan Isfahan.
Serangan Awal Israel dan Balasan Iran (13-16 Juni 2025)
Serangan Israel menargetkan infrastruktur penting dan tokoh-tokoh kunci Iran, termasuk para jenderal dan ilmuwan nuklir. Hal ini dianggap sebagai deklarasi perang oleh Iran. Mereka pun segera membalas dengan serangan rudal ke wilayah Israel, menargetkan Tel Aviv dan Haifa. Serangan balasan ini menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang signifikan di kedua negara. Eskalasi konflik terjadi dengan cepat.
Eskalasi Konflik dan Peringatan (17-20 Juni 2025)
Selama beberapa hari berikutnya, serangan balasan terus berlanjut, meningkatkan jumlah korban jiwa dan kerusakan. Cakupan serangan meluas, menargetkan infrastruktur vital dan kawasan permukiman. Pada 20 Juni, Kepala Staf Umum Militer Israel memperingatkan tentang potensi operasi militer berkepanjangan, menandakan semakin seriusnya situasi.
Keterlibatan AS dan Serangan Balasan (21-23 Juni 2025)
Amerika Serikat ikut campur tangan dengan melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir Iran pada 21 Juni 2025. Tindakan ini semakin memperluas konflik dan meningkatkan intensitasnya. Iran merespon dengan meluncurkan 30 rudal ke Israel pada 22 Juni 2025. Sebagai tindakan balasan atas pemboman fasilitas nuklirnya, Iran kemudian menyerang pangkalan militer AS di Qatar pada 23 Juni 2025.
Gencatan Senjata dan Pelanggaran (23-24 Juni 2025)
Gencatan senjata akhirnya diumumkan pada 24 Juni 2025 oleh Presiden AS Donald Trump. Namun, situasi tetap tegang. Israel menuduh Iran melanggar gencatan senjata dengan menembakkan rudal ke kota-kota Israel. Sebagai balasan, Israel menyerang sistem radar di dekat Teheran. Meskipun gencatan senjata diumumkan, pelanggaran terus terjadi.
Dampak dan Reaksi Internasional
Perang singkat ini meninggalkan dampak yang signifikan. Korban jiwa dan luka-luka terjadi di kedua negara. Infrastruktur vital di Iran dan Israel mengalami kerusakan parah. Keterlibatan AS memperluas skala konflik dan meningkatkan risiko eskalasi. Lebih dari 100.000 warga Teheran mengungsi.
Reaksi Global dan Dampak Kemanusiaan
PBB dan organisasi internasional lainnya mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri. Pemerintah Indonesia mengecam serangan Israel terhadap Iran. Komisi I DPR mendorong pemerintah Indonesia untuk membentuk satgas evakuasi warga negara Indonesia dari Iran. Krisis kemanusiaan terjadi di Iran akibat pengungsian massal.
Setelah Perang: Analisis dan Prospek Masa Depan
Meskipun perang telah berakhir, situasi di Timur Tengah tetap rawan. Gencatan senjata yang rapuh dan potensi konflik lanjutan di wilayah tersebut tetap menjadi ancaman. Perang ini menyoroti pentingnya diplomasi dan kerja sama internasional dalam mencegah konflik berskala besar. Ketegangan geopolitik masih tinggi, dan potensi eskalasi tetap ada. Perjanjian damai yang kokoh dan berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk memastikan stabilitas regional.
Perang 12 hari antara Israel dan Iran merupakan peringatan keras tentang betapa cepatnya konflik dapat meningkat dan dampaknya yang menghancurkan. Meskipun gencatan senjata telah dideklarasikan, kerja keras diplomasi dan komitmen untuk perdamaian jangka panjang sangat penting untuk mencegah konflik serupa di masa depan. Ketidakpastian masih membayangi Timur Tengah.






