Alya Laily Afifah, gadis 19 tahun asal Bandung, Jawa Barat, telah mewujudkan impiannya untuk menunaikan ibadah haji. Perjalanan suci ini ia tempuh bersama keluarga tercinta; kakak perempuannya, Nasywa Raudhatul Azka, serta kedua orang tuanya, Aep Ahmad Sayuti dan Neng Nurjannah. Keberangkatan mereka melalui Embarkasi Kertajati (KJT) dalam Kloter 7 merupakan puncak dari sebuah cita-cita yang telah lama dipendam.
Bagi keluarga ini, perjalanan haji bukan sekadar ibadah ritual. Ini adalah wujud janji dan impian yang telah dirintis sejak tahun 2000.
1. Cita-Cita Haji yang Tertunda dan Terwujud
Ayah Alya, Aep, mengungkapkan keinginannya untuk memberangkatkan anak-anaknya menunaikan ibadah haji sebelum mereka menikah. Ia percaya ibadah haji, yang membutuhkan fisik prima, lebih baik dilakukan di usia muda.
Pandemi COVID-19 pada tahun 2022 sempat menghambat rencana tersebut. Namun, Aep tak menyerah dan berupaya agar anak-anaknya dapat berangkat haji.
Alya, yang saat itu berusia 18 tahun, nyaris tak bisa berangkat karena kendala usia administrasi. Namun, berkat izin Allah, ia berhasil terdaftar sebagai jemaah haji pada tahun 2024.
Keberangkatan bersama keempat anggota keluarga menjadi momen yang sangat mengharukan bagi Aep. Ia bersyukur atas karunia Allah SWT yang telah melancarkan perjalanan ibadah keluarga kecilnya, meskipun sempat mengalami kesulitan ekonomi pasca-pandemi.
Aep menegaskan bahwa keberangkatan haji keluarga ini terwujud tanpa harus menjual aset berharga apapun. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata pertolongan Allah SWT.
2. Pengalaman Tak Terlupakan Alya di Tanah Suci
Bagi Alya, menunaikan ibadah haji bersama orang tua merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Ia merasakan kebahagiaan dan kesedihan yang bercampur aduk.
Kebahagiaan dirasakan karena dapat melaksanakan ibadah haji bersama keluarga. Kesedihan muncul karena adik-adiknya belum dapat ikut serta dalam perjalanan suci ini.
Sebelum berangkat, Alya telah mendapatkan bimbingan intensif dari orang tuanya. Ia belajar menghafal doa-doa, tata cara tawaf, dan memahami makna ibadah haji.
Orang tuanya selalu mengingatkan bahwa ibadah haji bukanlah sekadar perjalanan wisata, tetapi sebuah ibadah yang harus dilakukan dengan khusyuk dan penuh kesungguhan.
3. Rencana Haji untuk Adik-Adik Alya dan Harapan di Masa Depan
Setelah pulang dari Tanah Suci, Alya berharap dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi teladan bagi adik-adiknya. Ia ingin menjadi wanita yang salehah dan membanggakan orang tuanya.
Aep, sang ayah, memiliki rencana mulia untuk memberangkatkan adik-adik Alya yang masih bersekolah di pesantren, termasuk adiknya yang masih duduk di kelas 4 SD.
Ia berharap dapat terus mendampingi anak-anaknya dalam menunaikan ibadah haji. Menurutnya, haji bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga proses pendidikan rohani dan pendewasaan.
Kisah keluarga ini menginspirasi banyak orang. Ketekunan dan keimanan mereka menjadi bukti bahwa dengan niat dan usaha yang tulus, Allah SWT akan selalu memberikan jalan. Semoga perjalanan haji keluarga ini menjadi berkah dan membawa kebaikan bagi seluruh keluarga.






