Suara adzan Subuh membahana, menandakan datangnya waktu sholat yang istimewa. Selain menjalankan ibadah sholat, banyak umat muslim di Jawa melantunkan syair pujian sebagai bentuk dzikir dan pengingat akan pentingnya sholat Subuh.
Syair-syair pujian ini tak hanya sekadar ungkapan pujian, tetapi juga mengandung ajakan untuk meninggalkan kenikmatan tidur dan segera menunaikan sholat. Makna mendalam yang terkandung di dalamnya menjadikan syair ini bagian tak terpisahkan dari budaya keagamaan masyarakat Jawa.
Artikel ini akan menyajikan dua contoh syair pujian Jawa yang biasa dilantunkan setelah adzan Subuh, sebelum iqamah dikumandangkan. Kedua syair ini dihimpun dari berbagai sumber dan memiliki kekhasan masing-masing.
Syair Pujian Jawa Setelah Adzan Subuh: Ajakan Menuju Sholat
Syair-syair pujian yang dilantunkan setelah adzan Subuh ini bertujuan untuk membangkitkan semangat beribadah. Kata-kata yang lugas dan mudah dipahami, menjadikannya efektif sebagai pengingat bagi umat muslim.
Tradisi ini memperlihatkan betapa pentingnya sholat Subuh dalam kehidupan spiritual masyarakat Jawa. Syair-syair tersebut berfungsi sebagai pengantar menuju khusyu’ dalam sholat.
Contoh Syair Pujian Pertama: Menggunakan Metafora Api Neraka
Syair pertama menggunakan metafora api neraka untuk menggambarkan betapa pentingnya meninggalkan tidur dan segera sholat Subuh.
Ungkapan “Ono geni mulad-mulad genine saking neroko” (ada api berkobar-kobar, api dari neraka) menggambarkan konsekuensi jika mengabaikan sholat Subuh.
Berikut syair selengkapnya:
Wektune shubuh turune ojo ngenak-enak
Ono geni mulad-mulad genine saking neroko
Geni saking neroko, biso nyebut asmane Alloh
Lailaaha ilalloh muhammadurrosuululloh
Syair ini diakhiri dengan kalimat tauhid yang menegaskan keesaan Allah SWT dan pengakuan atas kenabian Nabi Muhammad SAW.
Contoh Syair Pujian Kedua: Penegasan Kekuasaan Allah
Syair kedua lebih menekankan pada kekuasaan Allah SWT dan pentingnya memanfaatkan waktu Subuh untuk beribadah.
Ungkapan “Turune semona-mona Ono geni mulab-mulab” (tidur terus menerus ada api yang berkobar-kobar) memiliki makna yang serupa dengan syair pertama.
Berikut syair selengkapnya:
Badan siji ojo turu ing wektu subuh
Turune semona-mona Ono geni mulab-mulab
Genine saking neroko, podo nyebut asmane Alloh
Lailaaha ilalloh huwallohuakbar
Lahawlawala quwwatailabillahil aliyiladim
Syair ini diakhiri dengan kalimat yang menegaskan ketiadaan kekuatan kecuali atas izin Allah SWT (La hawla wala quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Adhim).
Kedua syair ini, meskipun berbeda sedikit penyampaiannya, sama-sama mengandung pesan yang mendalam tentang pentingnya menunaikan sholat Subuh. Penggunaan bahasa Jawa yang lugas dan mudah dipahami menjadikan syair ini dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.
Tradisi melantunkan syair pujian setelah adzan Subuh ini menunjukkan kekayaan budaya Islam di Jawa yang menyatukan unsur spiritualitas dan kearifan lokal. Semoga tradisi ini terus lestari dan menjadi inspirasi bagi generasi muda muslim untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.






