Di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terdapat sebuah upaya unik untuk melestarikan budaya Sunda sekaligus meningkatkan perekonomian peternak lokal. Caranya? Lewat adu ketangkasan domba Garut, sebuah tradisi yang kini dipadukan dengan penilaian kualitas ternak.
Ajang ini tak sekadar hiburan semata, melainkan jembatan emas bagi peternak untuk meningkatkan nilai jual domba Garut mereka. Kompetisi ini sekaligus menjadi bukti nyata bagaimana pelestarian budaya dapat beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Adu Ketangkasan Domba Garut: Tradisi dan Ekonomi Berpadu
Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) PAC Salawu baru-baru ini menggelar acara Lakber Adu Ketangkasan Domba Garut. Acara yang berlangsung di Kampung Wanasari, Desa Jahiang, Kecamatan Salawu ini diikuti oleh 200 ekor domba Garut.
Wakil Ketua PAC HPDKI menegaskan bahwa tujuan utama acara ini semata-mata untuk melestarikan budaya Sunda asli, tanpa unsur perjudian atau hal-hal lain yang merugikan. Kompetisi ini murni untuk mengangkat harkat dan martabat budaya Sunda.
Lebih dari Sekadar Adu Ketangkasan
Penilaian dalam Lakber Adu Ketangkasan ini tidak hanya berfokus pada ketangkasan domba saja. Postur tubuh dan kerapian domba juga menjadi faktor penting dalam penjurian.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas ternak secara keseluruhan. Domba yang unggul dalam ketangkasan dan memiliki penampilan prima akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasaran.
Peserta Lakber berasal dari berbagai daerah, tak hanya Kabupaten Tasikmalaya, melainkan juga dari Garut dan Bandung. Ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap pelestarian dan pengembangan ternak domba Garut.
Peluang Ekonomi dari Tradisi yang Lestari
Ajang adu ketangkasan ini memberi kesempatan bagi para peternak dan pecinta domba untuk melatih dan meningkatkan kualitas ternak mereka. Mereka juga dapat mempertahankan keturunan domba Garut terbaik.
Abah Minan (65), seorang penghobi domba asal Cigalontang, berbagi pengalamannya. Ia membeli domba dengan harga Rp 4 juta, namun setelah berpartisipasi dalam kompetisi dan meraih prestasi, ada penawar yang berani menebusnya hingga Rp 20 juta.
Abah Minan menekankan pentingnya keturunan yang jelas dalam menentukan harga jual domba Garut berprestasi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian tradisi dapat berdampak positif pada perekonomian.
Tradisi adu ketangkasan domba Garut, yang sekaligus menjadi ajang untuk meningkatkan kualitas ternak, kini telah terbukti mampu memberikan manfaat ekonomi bagi para peternak dan pecinta domba di Priangan. Semoga tradisi ini tetap lestari dan terus berkembang.
Ke depan, diharapkan lebih banyak lagi inisiatif serupa yang dapat diadopsi di daerah lain untuk melestarikan kekayaan budaya lokal sambil meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kombinasi antara pelestarian budaya dan peningkatan ekonomi ini terbukti sangat efektif.






