Duka mendalam menyelimuti Edwin Septian setelah bayi yang baru dilahirkannya meninggal dunia di RSUD Karawang. Ia menduga adanya kelalaian medis yang menyebabkan kematian anaknya. Kejadian ini berujung pada aksi protes tunggal Edwin di depan rumah sakit.
Aksi tersebut menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Beliau langsung turun tangan menyelidiki kasus ini dan melakukan pertemuan dengan direktur rumah sakit dan Bupati Karawang.
Kronologi Kejadian Menurut Kesaksian Edwin
Menurut kesaksian Edwin yang diunggah di kanal YouTube Dedi Mulyadi, istrinya mengalami pendarahan hebat dan dibawa ke IGD RSUD Karawang.
Meski mendapatkan penanganan awal, Edwin mengaku tidak ada tindak lanjut yang memadai dari pihak rumah sakit dari pukul 12.00 siang hingga sore hari. Keluhannya tentang air ketuban dan darah yang terus keluar diabaikan.
Edwin menjelaskan bahwa seharusnya istrinya langsung dilakukan operasi caesar untuk menyelamatkan bayinya. Keterlambatan penanganan inilah yang diduga menyebabkan kematian bayi tersebut.
Kesedihan Edwin semakin bertambah karena pihak rumah sakit menahan jenazah bayinya akibat tunggakan BPJS Kesehatan. Ia menyayangkan hal ini, mengingat kondisi keluarganya yang sedang berduka.
Tiga Poin Ketidakberesan di RSUD Karawang Menurut Dedi Mulyadi
Gubernur Dedi Mulyadi, setelah melakukan investigasi, menemukan tiga permasalahan utama yang menyebabkan insiden ini.
Pertama, terdapat ketidaknyamanan dan kekecewaan keluarga karena lambatnya tindakan operasi. Kedua, komunikasi antara pihak rumah sakit dan keluarga kurang efektif. Ketiga, adanya keluhan tentang sikap petugas medis yang dinilai kurang ramah.
Dedi Mulyadi menekankan pentingnya perbaikan pelayanan di RSUD Karawang agar kejadian serupa tidak terulang. Ia menginstruksikan jajaran rumah sakit untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Respon RSUD Karawang dan Langkah Selanjutnya
Direktur RSUD Karawang, Andi Sariful Alam, menanggapi tudingan kelalaian dengan rencana audit internal.
Audit internal ini bertujuan untuk mengungkap secara detail kronologi kejadian dan menyelidiki apakah ada kesalahan prosedur yang dilakukan oleh tim medis.
Hasil audit internal tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan pemberian sanksi jika ditemukan adanya pelanggaran prosedur.
Kasus ini menjadi sorotan publik dan mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia, khususnya dalam penanganan kasus ibu dan bayi.
Perlu adanya transparansi dan akuntabilitas dari pihak rumah sakit dalam memberikan penjelasan kepada keluarga korban.
Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait, untuk senantiasa mengedepankan keselamatan pasien dan memberikan pelayanan kesehatan yang prima.






