Industri pariwisata Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi tantangan serius. Jumlah kunjungan turis internasional mengalami penurunan signifikan pada kuartal pertama tahun 2025.
Data menunjukkan penurunan 3,3 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2024, hanya 7,1 juta pengunjung internasional yang memasuki AS.
Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku bisnis pariwisata, termasuk perusahaan perjalanan besar seperti Expedia. Perusahaan ini melaporkan perlambatan bisnis baik dari wisatawan internasional maupun domestik.
Penurunan Minat Turis dan Dampaknya pada Ekonomi AS
Penurunan jumlah turis tidak hanya berdampak pada perusahaan perjalanan. Ini juga berdampak signifikan pada ekonomi AS secara keseluruhan.
Maskapai penerbangan utama AS berencana mengurangi jadwal penerbangan karena penurunan pemesanan tiket kelas ekonomi untuk perjalanan liburan.
Asosiasi Perjalanan AS mengaitkan penurunan ini dengan ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran atas kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
Kepercayaan konsumen terhadap ekonomi AS juga merosot pada bulan April 2025, mencapai level terendah sejak pandemi.
Bank of America mencatat penurunan pengeluaran untuk penerbangan dan akomodasi, menunjukkan kekhawatiran konsumen terhadap prospek ekonomi.
Perubahan Tren Perjalanan: Destinasi Alternatif Mengalami Peningkatan
Tren perjalanan internasional menunjukkan pergeseran preferensi wisatawan.
Pelancong dari Eropa dan Kanada lebih memilih destinasi di Amerika Latin daripada AS.
Expedia melaporkan penurunan pemesanan perjalanan ke AS dari Kanada hingga hampir 30 persen.
Sebaliknya, permintaan perjalanan ke Meksiko dan Brasil meningkat pesat.
Airbnb juga mencatat tren serupa, menunjukkan minat yang menurun terhadap AS sebagai destinasi wisata.
Data Airbnb menunjukkan peningkatan perjalanan domestik warga Kanada dan perjalanan ke negara-negara seperti Meksiko, Brasil, dan Jepang.
Meskipun ada penurunan, CEO Expedia, Ariane Gorin, menyatakan melihat adanya sedikit penyeimbangan kembali.
Meskipun penurunan perjalanan internasional ke hotel-hotelnya di AS, CEO Hilton, Christopher Nassetta, tetap optimistis dengan proyeksi pemulihan pada paruh kedua tahun 2025.
Aturan Baru Pelancong dari Pemerintah AS dan Potensi Dampaknya
Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump mempertimbangkan aturan perjalanan baru pada Maret 2025.
Draf aturan tersebut membagi 43 negara ke dalam tiga kategori pembatasan perjalanan.
Kategori merah melarang warga negara dari negara-negara tersebut untuk masuk ke AS, termasuk Afghanistan, Kuba, Iran, dan Korea Utara.
Kategori oranye memberlakukan pembatasan visa yang ketat pada negara-negara seperti Belarusia, Rusia, dan Pakistan.
Kategori kuning memberikan waktu 60 hari bagi 22 negara untuk mengatasi masalah yang disorot AS, atau berisiko masuk ke kategori yang lebih ketat.
Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait aturan perjalanan baru ini.
Perintah eksekutif yang ditandatangani Trump pada Januari 2025 bertujuan melindungi AS dari ancaman teroris dan keamanan nasional.
Perintah tersebut mengharuskan beberapa anggota kabinet memberikan rekomendasi negara yang masuk dalam larangan perjalanan.
Presiden Trump menolak untuk mengungkapkan negara-negara yang akan masuk dalam daftar baru tersebut.
Selama kampanyenya, Trump berjanji untuk memberlakukan kembali larangan perjalanan yang pernah diterapkan sebelumnya.
Penurunan tajam kunjungan turis ke AS merupakan tantangan kompleks dengan berbagai faktor penyebab, termasuk ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan pemerintah. Perubahan tren perjalanan yang mengarah pada peningkatan minat ke destinasi alternatif, dikombinasikan dengan potensi aturan perjalanan baru, membutuhkan strategi yang cermat dari industri pariwisata AS untuk pulih dan menarik kembali minat wisatawan internasional.






