Puluhan mahasiswa Universitas Lampung (Unila) dari Aliansi FEB Menggugat menggelar demonstrasi di depan Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Mereka menuntut keadilan atas dugaan kekerasan dan pelanggaran etik di organisasi kemahasiswaan (Ormawa) FEB yang diduga disembunyikan oleh pimpinan fakultas. Aksi ini menandai puncak dari kekecewaan mahasiswa terhadap minimnya respon dan perlindungan yang diberikan kampus terhadap korban.
Ketidakpuasan mahasiswa bukan hanya sebatas dugaan kekerasan. Kurangnya transparansi keuangan Ormawa, evaluasi kinerja staf yang kurang optimal, serta fasilitas akademik yang memprihatinkan juga menjadi sorotan utama aksi ini. Mahasiswa merasa suara mereka diabaikan dan berharap aksi ini dapat mendorong perubahan nyata di lingkungan kampus.
Dugaan Kekerasan dan Intimidasi di Ormawa FEB Unila
Aksi demonstrasi yang berlangsung dari pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB ini diwarnai dengan tuntutan tegas kepada Dekanat FEB Unila. Jenderal Lapangan aksi, M. Zidan Azzakri, memaparkan bukti-bukti dugaan kekerasan dan intimidasi yang mereka kumpulkan, termasuk rekaman medis korban, kesaksian, dan bukti digital. Mereka menilai Dekanat telah melakukan pembungkaman terhadap korban dan gagal menjalankan fungsi perlindungan yang seharusnya diberikan.
Dekanat dinilai lamban dan tidak serius menanggapi laporan dugaan kekerasan. Keengganan Dekanat untuk menandatangani Pakta Integritas yang diajukan mahasiswa semakin memperkuat kecurigaan akan adanya upaya pembiaran dan pengabaian masalah ini. Hal ini menunjukkan kurangnya komitmen kampus dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif.
Empat Tuntutan Utama Aliansi FEB Menggugat
Aliansi FEB Menggugat menyampaikan empat tuntutan utama kepada Dekanat FEB Unila. Tuntutan tersebut meliputi penghapusan Ormawa yang terbukti melakukan kekerasan dan pelanggaran etik. Mereka juga menuntut penegakan hukum dan etik terhadap pelaku kekerasan.
Transparansi publik juga menjadi tuntutan penting. Mahasiswa meminta klarifikasi terbuka dari pihak Dekanat terkait kasus ini. Tuntutan terakhir adalah penghentian segala bentuk intimidasi dan upaya pembungkaman terhadap korban. Keempat tuntutan ini mencerminkan keinginan mahasiswa untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih adil dan bertanggung jawab.
Pertemuan yang Buntu dan Rencana Aksi Lanjutan
Pertemuan antara perwakilan mahasiswa dengan Dekan dan Wakil Dekan pada pukul 10.30 WIB tidak menghasilkan kesepakatan. Ketidaksetujuan Dekanat untuk menandatangani Pakta Integritas dianggap sebagai bentuk arogansi dan ketidakseriusan dalam menyelesaikan masalah. Hal ini menyebabkan mahasiswa semakin meningkatkan tekanan kepada pihak kampus.
Aliansi FEB Menggugat berencana untuk menggelar aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar. Mereka akan mengajak seluruh mahasiswa Unila untuk bergabung dalam perjuangan mereka untuk keadilan dan transparansi di lingkungan kampus. Tekanan akan terus ditingkatkan sampai pihak Dekanat bertanggung jawab penuh atas permasalahan ini.
Masalah Infrastruktur dan Transparansi Keuangan
Selain isu kekerasan, demonstrasi ini juga menyoroti masalah infrastruktur dan transparansi keuangan di FEB Unila. Mahasiswa mengeluhkan kondisi Gedung F yang kekurangan AC, proyektor, dan komputer, mengakibatkan ketidaknyamanan dalam proses belajar mengajar.
Ketidakjelasan pengelolaan keuangan Ormawa juga menjadi keprihatinan. Mahasiswa menuntut transparansi penuh dalam penggunaan dana organisasi kemahasiswaan agar tidak terjadi penyimpangan dan penyalahgunaan. Mereka berharap kampus dapat meningkatkan pengawasan dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan.
Kondisi Gedung F yang memprihatinkan merupakan contoh nyata dari kurangnya perhatian terhadap kebutuhan mahasiswa. Minimnya fasilitas pendukung pembelajaran menunjukkan kurangnya prioritas kampus dalam menyediakan lingkungan belajar yang optimal bagi mahasiswanya. Ini membutuhkan tindakan nyata dari pihak kampus untuk melakukan perbaikan dan peningkatan fasilitas.
Peristiwa ini menunjukkan pentingnya peran aktif mahasiswa dalam memperjuangkan hak dan keadilan di lingkungan kampus. Keberanian mereka untuk menyuarakan aspirasi dan menuntut transparansi dan akuntabilitas dari pihak kampus patut diapresiasi. Semoga tuntutan mahasiswa dapat direspon dengan serius dan menghasilkan solusi yang adil dan berkelanjutan bagi semua pihak. Kejadian ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga lingkungan kampus yang aman, transparan, dan kondusif bagi seluruh civitas akademika.






