Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, terus berupaya mempercepat pembangunan infrastruktur nasional. Langkah terbaru adalah peluncuran Project Facilitation Office, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mengakselerasi investasi di sektor ini.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menjelaskan detail rencana ini setelah penutupan International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta.
Project Facilitation Office: Kolaborasi untuk Akselerasi Infrastruktur
Project Facilitation Office akan menjadi pusat akselerasi investasi infrastruktur. Implementasinya melibatkan kerja sama antar kementerian dan lembaga terkait, termasuk Kementerian Investasi dan Hilirisasi, BKPM, dan lainnya.
AHY menjelaskan, model ini terinspirasi dari praktik sukses di negara-negara seperti Singapura, Hong Kong, dan Australia. Pembentukannya merupakan bagian dari prioritas kelima agenda strategis infrastruktur nasional, yaitu Reformasi Pembiayaan untuk Infrastruktur Berkelanjutan.
Inspirasi Global dan Strategi Pembiayaan Inovatif
Presiden Prabowo Subianto mendorong perubahan paradigma pembangunan infrastruktur dari model birokratis ke arah kolaboratif. Hal ini menekankan peran sektor swasta dan pembiayaan inovatif.
Pemerintah akan mendorong skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), Green Bonds, dan Blended Finance. Tujuannya bukan hanya mencari dana, tetapi juga mengundang mitra strategis untuk membangun bersama.
International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 dan Project Catalog
ICI 2025, dengan tema “Sustainable Infrastructure for the Future: Innovation and Collaboration,” selaras dengan filosofi pembangunan Presiden Prabowo. Tema ini menggabungkan keadilan sosial, kedaulatan nasional, dan keberlanjutan.
Sebagai tindak lanjut ICI 2025, pemerintah meluncurkan Project Catalog 2025. Katalog ini menawarkan sekitar 40 proyek infrastruktur strategis di berbagai sektor.
Sektor-sektor tersebut meliputi transportasi, energi, air, pengelolaan sampah, perumahan, dan kota cerdas. Pemerintah tidak hanya mengundang investasi, tetapi juga kemitraan jangka panjang, khususnya di Pesisir Utara Jawa, terutama Jakarta.
Peserta dan Mitra ICI 2025
Konferensi ICI 2025 dihadiri lebih dari 7.000 peserta dari 33 negara. Di antaranya adalah Indonesia, Amerika Serikat, Australia, dan banyak negara lainnya.
Kehadiran investor dan lembaga pembiayaan terkemuka seperti Macquarie (Australia), GIC (Singapura), World Bank, IFC, ADB, dan The Asia Group menunjukkan komitmen global terhadap pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Kesimpulannya, peluncuran Project Facilitation Office menandai komitmen kuat pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di Indonesia. Kolaborasi dengan sektor swasta dan penerapan strategi pembiayaan inovatif diharapkan dapat menghasilkan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Suksesnya ICI 2025 dan Project Catalog 2025 menunjukkan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditopang oleh kemajuan infrastruktur yang pesat dan berkelanjutan. Kerjasama internasional dan inovasi menjadi kunci keberhasilan upaya ini.






