Hari Perjuangan untuk Hak-hak Rakyat Tatar Krimea pada 18 Mei 2025 menjadi momentum penting bagi Ukraina untuk kembali menyuarakan keprihatinan atas perlakuan Rusia terhadap etnis Tatar Krimea. Kementerian Luar Negeri Ukraina menuding Rusia melanjutkan kebijakan serupa masa pemerintahan Stalin, yakni pengusiran paksa etnis Tatar Krimea dari tanah kelahiran mereka di Krimea menuju Asia Tengah. Kiev menganggap tindakan ini sebagai bentuk genosida dan mengucapkan terima kasih kepada negara-negara yang turut mengakui deportasi massal tahun 1944 sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Peringatan ini bukan sekadar peristiwa historis. Ukraina menekankan bahwa kebijakan represif Rusia terhadap Tatar Krimea masih berlanjut hingga saat ini. Hal ini menjadi sorotan penting dalam konflik antara Rusia dan Ukraina.
1. Klaim Rusia Melakukan Persekusi Terhadap Warga Tatar Krimea
Menurut Kementerian Luar Negeri Ukraina, selama 11 tahun terakhir, Rusia telah menerapkan berbagai kebijakan represif di Krimea. Ini termasuk pelarangan aktivitas Mejlis, badan legislatif Tatar Krimea, dan persekusi terhadap warga Tatar Krimea yang terlibat dalam aktivitas politik dan keagamaan.
Ukraina menegaskan bahwa etnis Tatar Krimea kini harus berjuang bersama rakyat Ukraina melawan agresi Rusia. Mereka berharap akan ada kemenangan dan semua warga yang terusir akan dapat kembali ke tanah kelahiran mereka. Krimea, menurut Ukraina, adalah bagian tak terpisahkan dari Ukraina.
Peringatan Hari Perjuangan untuk Hak-hak Rakyat Tatar Krimea juga menjadi momentum untuk memperingati genosida ke-81 terhadap etnis Tatar Krimea. Peristiwa ini menandai deportasi massal yang dilakukan Uni Soviet pada tahun 1944.
2. Zelenskyy: Krimea Harus Bebas Seperti Seluruh Ukraina
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyerukan pembebasan Krimea dan menekankan pentingnya mengingat kejahatan yang dilakukan Uni Soviet terhadap etnis Tatar Krimea.
Zelenskyy mengingatkan tragedi deportasi massal tahun 1944 sebagai bukti kekejaman rezim otoriter dan impunitas para pemimpin di Moskow. Ia menegaskan bahwa tragedi serupa tidak boleh terulang, meskipun okupasi Rusia di Krimea terus berlanjut dan memisahkan ribuan keluarga.
Deportasi tersebut, menurut Zelenskyy, merupakan perjalanan panjang dan menyakitkan yang menjadi hukuman mati bagi ribuan orang. Mereka diusir dari tanah kelahiran mereka tanpa alasan yang jelas, selain tuduhan berkolaborasi dengan Nazi Jerman.
3. Turki Sampaikan Pesan Solidaritas untuk Etnis Tatar Krimea
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyampaikan pesan solidaritas kepada etnis Tatar Krimea dalam peringatan ke-81 pemindahan paksa mereka. Erdogan mengecam tindakan deportasi paksa tersebut.
Turki, menurut Erdogan, akan terus mendukung hak-hak etnis Tatar Krimea dan berdiri bersama mereka. Pernyataan ini memperkuat solidaritas Turki dengan Ukraina dalam isu ini.
Deportasi massal tahun 1944 merenggut hampir 250.000 etnis Tatar Krimea dari tanah air mereka dan mengirim mereka ke Asia Tengah. Tuduhan kolaborasi dengan Nazi Jerman menjadi alasan Moskow untuk melakukan tindakan keji tersebut.
Peringatan Hari Perjuangan untuk Hak-hak Rakyat Tatar Krimea menjadi pengingat akan pentingnya keadilan dan penghormatan hak asasi manusia. Peristiwa ini juga menyoroti dampak jangka panjang dari kebijakan represif dan pentingnya solidaritas internasional dalam melawan genosida dan pelanggaran HAM. Perjuangan etnis Tatar Krimea untuk kembali ke tanah leluhur mereka dan mendapatkan kembali hak-hak mereka masih terus berlanjut. Dukungan internasional terhadap perjuangan mereka sangat penting untuk memastikan keadilan dan mencegah tragedi serupa terjadi di masa depan.






