Kisah sukses Jensen Huang, pendiri dan CEO Nvidia, tak hanya diwarnai oleh inovasi teknologi yang mengguncang dunia, tetapi juga kisah cinta yang sederhana dan inspiratif. Kekayaan miliaran dolarnya, yang mencapai USD 118 miliar menurut Forbes, bermula dari pertemuan tak terduga di bangku kuliah dengan wanita yang kini menjadi istrinya, Lori Huang.
Pertemuan mereka di Oregon State University menjadi awal perjalanan cinta yang membuahkan hasil luar biasa. Kisah romansa ini, yang jarang tersorot publik, menyimpan rahasia sederhana di balik kesuksesan seorang jenius teknologi.
Pertemuan di Kampus: Taktik Jenius Sang CEO Muda
Pada usia 17 tahun, Jensen yang masih muda dan tampak lebih kecil dari usianya, bertemu dengan Lori, yang berusia 19 tahun. Ia mengatasi rasa mindernya dengan strategi unik dan percaya diri.
Dengan jumlah perempuan yang sedikit di kampusnya, Jensen memanfaatkan penampilannya yang muda untuk mendekati Lori. Ia berharap penampilannya yang “anak-anak” justru akan membuat Lori menganggapnya cerdas.
Strategi tersebut berhasil. Ia mendekati Lori dengan kalimat, “Apakah kamu ingin melihat pekerjaan rumahku?”.
Ia pun menambahkan janji manis, “Jika kamu mengerjakan pekerjaan rumah denganku setiap hari Minggu, aku jamin kamu akan mendapat nilai A”.
Dari Pekerjaan Rumah Hingga Janji di Usia 30 Tahun
Dari pendekatan jenaka itu, hubungan mereka berkembang. Setiap hari Minggu, mereka menghabiskan waktu bersama mengerjakan pekerjaan rumah.
Jensen, yang penuh ambisi, bahkan berani berjanji kepada Lori bahwa di usia 30 tahun, ia akan menjadi CEO sebuah perusahaan besar. Sebuah janji yang kemudian menjadi kenyataan.
Lima tahun setelah pertemuan pertama mereka di Oregon State University, Jensen dan Lori menikah.
Pernikahan mereka dikaruniai dua orang anak, Madison dan Spencer, yang kini turut berkontribusi di Nvidia, perusahaan yang didirikan oleh ayah mereka.
Nvidia: Buah Kerja Keras dan Sebuah Janji yang Terwujud
Setelah lulus kuliah pada tahun 1984, Jensen memulai kariernya di LSI Logic dan Advanced Micro Devices. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya dengan meraih gelar magister teknik elektro di Stanford pada tahun 1992.
Setahun kemudian, tepatnya di tahun 1993, ia mendirikan Nvidia. Di usia 30 tahun, janjinya kepada Lori terwujud: ia menjadi CEO.
Berkat inovasi dan visi yang luar biasa, Nvidia kini menjelma menjadi perusahaan raksasa dengan nilai pasar USD 3,48 triliun, didorong oleh pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Kisah sukses Jensen Huang tak hanya inspiratif dari segi bisnis, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana sebuah mimpi besar, diiringi kerja keras dan cinta sejati, mampu menciptakan keajaiban.
Dari pertemuan sederhana di bangku kuliah hingga memimpin perusahaan teknologi terkemuka di dunia, kisah Jensen dan Lori menjadi teladan akan pentingnya kerja keras, ambisi, serta dukungan orang-orang terkasih dalam meraih kesuksesan. Pertemuan mereka, yang diselingi humor dan sebuah janji ambisius, telah mengukir sejarah tidak hanya di dunia teknologi, tetapi juga dalam kisah-kisah inspiratif tentang cinta dan pencapaian.






