Integritas seorang perwira polisi diuji dalam situasi yang penuh godaan. Kombes Eko Suroso, mantan Kabag Perawatan Personel (Watpers) Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Sulawesi Selatan, menghadapi berbagai upaya suap selama proses rekrutmen anggota Polri. Namun, ia tetap teguh pada prinsipnya.
Berbagai tawaran “hadiah” demi meloloskan calon anggota Polri kerap datang menghampiri. Namun, Komisaris Besar Polisi Eko Suroso menolaknya dengan tegas. Sikapnya ini patut diapresiasi dalam konteks pemberantasan korupsi di tubuh kepolisian.
Ujian Integritas di Proses Rekrutmen Polri
Kombes Eko menceritakan sebuah kejadian ekstrem. Seorang individu menunjukkan buku rekening banknya, seolah-olah menunjukkan kemampuan finansial untuk menyuap. Namun, Eko dengan tegas menolaknya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan seleksi ditentukan oleh kemampuan peserta sendiri, bukan koneksi atau uang suap. Banyak peserta gagal karena kurang persiapan, bukan karena kurangnya koneksi.
Edukasi dan Pencegahan Praktik Calo
Sejak Maret 2025, Kombes Eko bertugas sebagai Kabid Pengamanan Profesi (Bidpropam) Polda Sulawesi Barat. Sebelumnya, di Polda Sulsel, ia bertugas dalam proses seleksi Polri.
Jabatannya membuatnya menjadi sasaran empuk bagi mereka yang ingin memanfaatkan kekuasaannya. Namun, Eko justru melihat ini sebagai kesempatan untuk mengedukasi orang lain.
Ia menekankan pentingnya proses dan persiapan, bukan jalan pintas. Eko menyarankan agar dana yang seharusnya digunakan untuk suap dialokasikan untuk bimbingan belajar (bimbel) sekolah kedinasan.
Sistem seleksi Polri yang kini sudah terkomputerisasi dan transparan juga menjadi poin penting yang dijelaskan Eko. Nilai tak dapat dimanipulasi. Sistem BETAH (bersih, transparan, akuntabel dan humanis) dan CAT (Computer Assisted Test) telah melindungi proses seleksi dari penyimpangan.
Hidup Sederhana dan Integritas yang Teguh
Kombes Eko, ayah dari dua anak dan suami seorang polwan, hidup sederhana. Ia tinggal bersama mertuanya di dekat asrama Brimob.
Meskipun memiliki rumah pribadi tipe 45 di Makassar yang dibeli sejak ia berpangkat Iptu, rumah tersebut tetap kosong karena ia memilih tinggal bersama keluarga mertua.
Latar belakang keluarganya juga sederhana. Ayahnya dulunya seorang kenek bus, sementara ibunya tidak bekerja. Kisah hidupnya menggambarkan perjalanan dari keluarga sederhana hingga menjadi perwira tinggi Polri.
Kombes Eko mendefinisikan integritas sebagai tindakan sesuai aturan dan menikmati prosesnya. Ia menjadi role model dengan menjalankan tugas tanpa merasa terpaksa.
Pengalaman hidupnya, dari keluarga sederhana hingga menghadapi godaan korupsi selama bertugas, menunjukkan bagaimana integritas dapat dijaga di tengah berbagai tantangan. Sikap tegasnya menolak suap menjadi teladan bagi para penegak hukum lainnya.
Kisah Kombes Eko Suroso menjadi bukti bahwa kesederhanaan hidup dan integritas yang teguh dapat menjadi pondasi kuat dalam menjalankan tugas dan mencapai kesuksesan, sekalipun di lingkungan yang penuh godaan.






