Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menghapus celah bebas bea impor telah berdampak signifikan pada model bisnis perusahaan e-commerce seperti Temu dan Shein. Langkah ini membuat barang-barang murah asal Cina yang sebelumnya masuk ke AS dengan mudah, kini dikenakan tarif dan biaya tambahan yang cukup tinggi.
Hal ini mengakibatkan lonjakan harga hingga lebih dari dua kali lipat bagi konsumen AS dan menggerus margin keuntungan Temu dan Shein. Akibatnya, kedua perusahaan ini diperkirakan akan lebih fokus pada pasar Eropa.
Eropa: Surga Baru, Tapi Ancaman Lama
Uni Eropa, dengan batas bebas bea impor sebesar €150 (Rp2,8 juta), sempat menjadi alternatif yang menarik bagi Temu dan Shein. Namun, tingginya jumlah paket murah yang membanjiri pasar Eropa—mencapai 4,6 miliar paket pada tahun 2024—menimbulkan kekhawatiran baru.
Kondisi ini menekan para pengecer Eropa yang menghadapi biaya operasional lebih tinggi, termasuk biaya tenaga kerja, rantai pasokan, dan kepatuhan regulasi. Keunggulan tarif pos internasional yang dinikmati oleh perusahaan Cina juga semakin memperparah situasi.
Meskipun Komisi Eropa telah mengusulkan penghapusan pengecualian *de minimis* sejak dua tahun lalu, rencana tersebut masih terhambat dan diperkirakan baru akan disetujui pada tahun 2027.
Ancaman Keamanan dan Penipuan Pajak
Banjirnya barang murah dari Cina menimbulkan masalah keamanan produk. BEUC, organisasi lobi konsumen Eropa, menemukan banyak barang yang gagal memenuhi standar keamanan Uni Eropa. Ini meliputi kosmetik berbahaya, pakaian, mainan, dan peralatan rumah tangga yang rusak.
Selain itu, praktik penipuan pajak marak terjadi. Banyak penjual Cina yang mengurangi nilai barang untuk menghindari pajak penjualan atau PPN, yang besarannya bervariasi antara 20-27% di negara-negara Uni Eropa.
OLAF dan otoritas Polandia baru-baru ini mengungkap skema penipuan PPN yang rumit, di mana barang-barang diklaim menuju negara Uni Eropa lain untuk menghindari pajak, padahal sebagian besar tetap berada di Polandia.
Respon Eropa: Antara Proteksi dan Konsumen
Beberapa negara Uni Eropa, seperti Prancis, telah mengambil langkah untuk meningkatkan pemeriksaan barang impor bernilai rendah. Mereka akan menganalisis keamanan produk, standar pelabelan, dan lingkungan, serta mengenakan biaya manajemen untuk setiap paket.
Tantangan bagi pembuat kebijakan Eropa adalah menyeimbangkan perlindungan industri dalam negeri, kepatuhan regulasi, dan akses konsumen terhadap barang murah. Menciptakan persaingan yang adil tanpa menghambat akses konsumen terhadap barang-barang murah dari Cina menjadi tantangan yang kompleks.
Situasi ini menunjukkan dilema yang dihadapi Uni Eropa. Di satu sisi, mereka ingin melindungi industri dalam negeri dan konsumen dari barang-barang berbahaya dan praktik penipuan. Di sisi lain, mereka tidak ingin kehilangan daya tarik pasarnya sebagai tujuan impor barang-barang murah dari Cina.
Ke depannya, perkembangan kebijakan di Eropa akan sangat menentukan nasib Temu dan Shein, serta masa depan persaingan ritel di Benua Biru.






