Agung Sedayu Group dan Natabumi Warga Bumi Putra Indonesia (WBI) berkolaborasi dalam aksi penanaman 7.000 bibit mangrove di pesisir Tanjung Pasir, Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Inisiatif ini merupakan bagian dari kampanye pelestarian lingkungan bertajuk “Warga Bumiputra Indonesia Pulihkan Mangrove Pesisir,” yang bertujuan untuk mengembalikan kejayaan ekosistem mangrove di wilayah tersebut.
Penanaman mangrove ini bukan hanya sekadar aksi simbolik, tetapi juga merupakan langkah nyata dalam upaya pelestarian lingkungan yang lebih luas. Program ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah.
Komitmen Agung Sedayu Group dalam Pelestarian Mangrove
Direktur Utama Agung Sedayu Group, Nono Sampono, menegaskan komitmen perusahaannya untuk turut menjaga pesisir utara Jawa, khususnya Teluk Jakarta yang rentan terhadap abrasi. Kawasan Tanjung Pasir, yang dulunya memiliki 1.800 hektare hutan bakau, kini hanya tersisa 91 hektare.
Agung Sedayu Group, yang saat ini mengembangkan PIK 2, menganggap pelestarian lingkungan sebagai bagian integral dari proyek strategis nasional. Perusahaan mengalokasikan dana hingga Rp 39,6 triliun untuk rehabilitasi enam titik hutan mangrove.
Nono Sampono menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam. Perusahaan siap menyelesaikan masalah yang mungkin timbul akibat proyek pembangunan ini.
Kerja Sama dan Dukungan Berbagai Pihak
Ketua Panitia penanaman mangrove, Ir. Jusman Sikki, menjelaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini merupakan hasil kerja sama berbagai pihak. Dukungan penuh dari Agung Sedayu Group dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjadi kunci keberhasilannya.
Penanaman 7.142 bibit mangrove dilakukan secara bertahap. Penanaman 500 bibit terakhir menandai selesainya program tahap ini.
Pentingnya Pelestarian Mangrove dan Kesadaran Lingkungan
Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, yang turut hadir dalam acara penanaman, mengingatkan pentingnya pelestarian mangrove disertai kesadaran menjaga lingkungan dari sampah plastik. Ia menyoroti berkurangnya luas hutan mangrove di Indonesia.
Meskipun Indonesia masih memiliki hutan mangrove terbesar di dunia, luasannya telah berkurang 1,1 juta hektare sejak 1990. Hal ini menjadi perhatian serius yang perlu diatasi bersama.
Ketua Umum WBI, Jenderal TNI (Purn) A.M Hendropriyono, menyatakan bahwa program penanaman mangrove ini merupakan komitmen jangka panjang organisasi untuk menyelamatkan ekosistem pesisir nasional. Program ini akan diperluas hingga mencakup 1.600 hektare lahan di berbagai wilayah Indonesia.
Program ini tidak hanya fokus pada penanaman, tetapi juga pada upaya menyelamatkan masa depan generasi mendatang. Pelestarian ekosistem mangrove sangat penting untuk keberlanjutan lingkungan.
Kegiatan penanaman mangrove di Tanjung Pasir ini menjadi contoh nyata kolaborasi antara sektor swasta, organisasi masyarakat, dan pemerintah dalam upaya pelestarian lingkungan. Semoga inisiatif ini menginspirasi pihak lain untuk turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam Indonesia.






