Serangan udara Israel di Jalur Gaza kembali menelan korban jiwa. Pada Jumat, sedikitnya 42 warga Palestina tewas akibat serangan tersebut, menurut laporan Badan Pertahanan Sipil Gaza. Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina.
Israel melanjutkan operasi militernya di Gaza sejak 18 Maret 2025, setelah gencatan senjata sebagian yang sebelumnya berlaku runtuh. Kegagalan perundingan damai telah mengakibatkan peningkatan kekerasan di wilayah tersebut.
Serangan Mematikan di Kamp Pengungsi Bureij
Sembilan warga Palestina tewas akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi Bureij, Gaza tengah. Mohammed al-Mughayyir, pejabat pertahanan sipil, mengkonfirmasi insiden tersebut kepada kantor berita AFP.
Rekaman video yang beredar menunjukkan kepedihan warga Palestina yang mencari korban di antara puing-puing bangunan yang hancur rata dengan tanah. Kesaksian warga, seperti Mohammed al-Sheikh, menggambarkan kekejaman serangan yang terjadi tanpa peringatan.
Mereka tidak mendapatkan peringatan sebelumnya, serangan terjadi secara tiba-tiba di tengah malam. Warga hanya bisa menyelamatkan diri dari hujan puing-puing, batu, dan pecahan peluru.
Korban Jiwa Berjatuhan di Beberapa Lokasi
Selain di kamp pengungsi Bureij, serangan juga menargetkan beberapa lokasi lain di Gaza. Di kota Beit Lahia, enam orang tewas dalam serangan yang menyasar rumah keluarga Al-Masri.
Serangan lain di Kota Gaza menghantam dapur umum, mengakibatkan enam orang lainnya meninggal dunia. Sedikitnya 21 kematian lainnya dilaporkan terjadi di berbagai lokasi di seluruh Jalur Gaza.
Jumlah Korban Tewas Meningkat Drastis
Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas melaporkan bahwa sedikitnya 2.326 orang telah tewas sejak Israel melanjutkan kampanyenya di Gaza pada Maret 2025. Angka ini menambah jumlah korban tewas secara keseluruhan menjadi 52.418 jiwa sejak perang pecah.
Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Israel menghentikan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza pada 2 Maret, beberapa hari sebelum gencatan senjata yang dimulai pada 19 Januari runtuh.
Krisis Kemanusiaan yang Mengkhawatirkan
PBB telah berulang kali memperingatkan tentang bencana kemanusiaan yang terjadi di Gaza. Ancaman kelaparan kembali menghantui penduduk Gaza.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menyatakan bahwa respon kemanusiaan di Gaza berada di ambang kehancuran total. Pascal Hundt, wakil direktur operasi ICRC, mendesak agar situasi ini tidak dibiarkan memburuk lebih lanjut.
Situasi di Gaza terus menjadi perhatian internasional yang mendesak. Jumlah korban jiwa yang terus meningkat dan krisis kemanusiaan yang semakin parah membutuhkan penyelesaian konflik yang segera dan menyeluruh. Dunia internasional harus mendesak gencatan senjata permanen dan memberikan bantuan kemanusiaan yang cukup untuk meringankan penderitaan warga Palestina.






