Dependensi Amerika Serikat terhadap Tiongkok untuk pasokan logam tanah jarang sangat tinggi. Antara tahun 2020 dan 2023, AS mengimpor 70% kebutuhannya dari Tiongkok.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengingat Tiongkok dapat membatasi ekspor sebagai tindakan balasan, seperti yang telah dilakukan sebelumnya.
Ketergantungan AS pada Tiongkok untuk Logam Tanah Jarang
Kontrol ekspor Tiongkok atas logam tanah jarang membatasi pilihan negara lain, termasuk AS. Minimnya alternatif global membuat AS terpaksa mencari solusi jangka panjang.
Sejak 2020, Departemen Pertahanan AS telah menggelontorkan lebih dari USD 439 juta untuk membangun rantai pasokan domestik logam tanah jarang.
Upaya AS Mengembangkan Produksi Domestik
Beberapa perusahaan AS memanfaatkan situasi ini untuk mempercepat produksi dalam negeri. Phoenix Tailings, misalnya, mengembangkan teknologi pengolahan mineral tanah jarang yang ramah lingkungan.
Perusahaan ini memproduksi 40 metrik ton logam tanah jarang per tahun dan berencana meningkatkannya hingga 400 ton dengan fasilitas baru di New Hampshire. Semua proses dilakukan di dalam negeri tanpa ketergantungan pada Tiongkok.
USA Rare Earth juga turut berkontribusi dengan membangun pabrik magnet di Texas, yang ditargetkan mampu memproduksi 5.000 ton magnet tanah jarang setiap tahun.
Tantangan dalam Mengurangi Ketergantungan pada Tiongkok
Meskipun ada kemajuan, para ahli meragukan kemampuan AS untuk memenuhi seluruh kebutuhan logam tanah jarang dalam waktu dekat. Produksi domestik AS masih sangat terbatas.
Luisa Moreno dari Defense Metals Corp. menekankan bahwa AS hampir tidak memproduksi bahan-bahan yang baru-baru ini dibatasi ekspornya oleh Tiongkok. Mengganti Tiongkok sepenuhnya sebagai pemasok juga masih sulit.
Alternatif dari negara lain mungkin tersedia, tetapi tidak ideal untuk logam tanah jarang berat, yang lebih langka dan sulit diekstraksi.
Pentingnya Logam Tanah Jarang dan Kekhawatiran Geopolitik
Logam tanah jarang memiliki peran penting dalam berbagai teknologi modern, termasuk smartphone, pesawat ruang angkasa, mobil listrik, dan perangkat medis.
Jenis logam tanah jarang berat sangat krusial untuk sektor pertahanan, digunakan dalam peralatan militer seperti jet tempur F-35, kapal selam, dan rudal Tomahawk.
Kekhawatiran meningkat karena Tiongkok menguasai 100% produksi dan pasokan logam tanah jarang berat. Kemampuan AS untuk memproduksi sendiri jenis logam ini masih sangat terbatas.
Gracelin Baskaran dari Center for Strategic and International Studies menambahkan, AS masih perlu meningkatkan pengetahuan dan teknologi pengolahan logam tanah jarang. Ini bukan hanya masalah modal, tetapi juga penguasaan teknologi.
AS saat ini hanya memproduksi kurang dari 1% logam tanah jarang dunia. Keterbatasan teknologi, seperti ekstraksi pelarut untuk memisahkan unsur-unsur tanah jarang, juga menjadi kendala besar.
Kesimpulannya, AS menghadapi tantangan besar dalam mengurangi ketergantungannya pada Tiongkok untuk pasokan logam tanah jarang. Meskipun upaya domestik terus dilakukan, jalan menuju kemandirian masih panjang dan membutuhkan investasi besar dalam teknologi dan riset.






