Ketegangan antara Iran dan Israel meningkat tajam setelah serangan Amerika Serikat (AS) terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Minggu, 22 Juni 2025. Serangan ini memicu kekhawatiran global akan potensi eskalasi konflik menjadi Perang Dunia 3. Namun, para ahli geopolitik dan hubungan internasional memberikan pandangan yang lebih tenang.
Meskipun AS telah secara langsung terlibat dalam konflik, para pengamat menilai belum ada eskalasi yang signifikan menuju perang berskala besar. Upaya diplomasi dari berbagai negara, termasuk Uni Eropa, Inggris, Jepang, Prancis, Qatar, dan Arab Saudi, terus dilakukan untuk mencegah meluasnya konflik.
Serangan AS dan Ancaman Perang Dunia 3: Pandangan Para Ahli
Dua pakar, Dina Sulaeman, dosen hubungan internasional Universitas Padjajaran, dan Dian Wirengjurit, pengamat geopolitik dan hubungan internasional sekaligus mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran, sepakat bahwa Perang Dunia 3 masih belum mungkin terjadi. Dian Wirengjurit bahkan menyebutnya “tidak mungkin”.
Upaya diplomasi regional, khususnya dari negara-negara Teluk, dinilai efektif dalam mencegah meluasnya konflik. Negara-negara tersebut tidak ingin wilayahnya menjadi medan perang. Keengganan negara-negara di kawasan untuk terlibat juga menjadi faktor pencegah eskalasi konflik.
Indikasi Eskalasi Menuju Perang Dunia 3
Dina Sulaeman menjelaskan bahwa Perang Dunia 3 baru akan terjadi jika konflik melibatkan banyak aktor dari berbagai kawasan dunia. Serangan AS kali ini dinilai sebagai serangan terbatas, bukan serangan besar-besaran.
Keterlibatan langsung negara-negara besar seperti Rusia dan China, yang merupakan sekutu Iran, menjadi indikator utama potensi Perang Dunia 3. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga akan memicu intervensi dari negara-negara lain karena akan mengganggu kepentingan ekonomi global.
Peran Amerika Serikat dalam Konflik
AS, berdasarkan doktrin kebijakan luar negerinya, selalu memprioritaskan keamanan Israel. Oleh karena itu, tekanan terhadap Iran telah dilakukan sejak lama, bukan hanya pada masa pemerintahan Trump. Serangan ke fasilitas nuklir Iran, menurut Trump, bertujuan untuk menghentikan ancaman nuklir dari negara yang disebutnya sebagai “negara pendukung teror nomor satu di dunia”.
Dampak Konflik Iran-Israel bagi Indonesia dan Posisi Indonesia
Dampak paling signifikan bagi Indonesia adalah potensi penutupan Selat Hormuz. Penutupan jalur pelayaran vital ini akan menyebabkan gangguan suplai minyak dari Timur Tengah, yang berujung pada kenaikan harga minyak dunia dan komoditas lainnya. Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, akan terkena dampaknya secara langsung.
Indonesia, hingga saat ini, belum mengeluarkan sikap resmi terkait konflik tersebut. Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya upaya penurunan eskalasi dan pencarian solusi damai. Namun, Indonesia dinilai tidak memiliki pengaruh signifikan untuk menjadi mediator utama dalam konflik ini, berbeda dengan Rusia dan China yang memiliki pengaruh lebih besar.
Peran Indonesia dalam Upaya Perdamaian
Meskipun pengaruh Indonesia terbatas, partisipasi dalam upaya perdamaian tetap penting. Indonesia bisa berkontribusi melalui tekanan ekonomi, seperti menunda kerjasama dengan perusahaan yang memasok logistik militer ke Israel. Strategi ini pernah berhasil diterapkan dalam upaya melawan rezim apartheid Afrika Selatan di tahun 80-an.
Indonesia juga bisa menegaskan komitmennya pada perdamaian dunia dan penolakan terhadap penjajahan sesuai dengan amanat UUD 1945. Dukungan terhadap pihak yang mengalami penjajahan, sejalan dengan doktrin bebas aktif dan non-blok, tetap dapat dilakukan.
Konflik Iran-Israel yang sedang berlangsung menyisakan banyak ketidakpastian. Meskipun ancaman Perang Dunia 3 dinilai masih rendah oleh para ahli, dampak global konflik ini sudah mulai terasa. Peran diplomasi dan upaya de-eskalasi dari komunitas internasional akan menentukan masa depan konflik ini. Indonesia, meskipun memiliki peran terbatas, perlu mempertimbangkan strategi yang tepat untuk mengamankan kepentingan nasional di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.






