Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memerintahkan serangan intensif ke Teheran pada Selasa (24/6/2025). Perintah ini menyusul tuduhan Israel terhadap Iran yang telah melanggar gencatan senjata yang baru saja disepakati.
Namun, laporan Sky News menyebutkan bahwa serangan Iran yang dimaksud Katz masih belum jelas. Kejelasan mengenai hal ini masih dinantikan dari pihak berwenang Israel.
Insiden ini mengakibatkan lima korban jiwa di Beer Sheba. Kerusakan yang terjadi di kota tersebut dilaporkan cukup besar.
Serangan Balasan Israel dan Klaim Iran
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan 14 rudal ke pusat-pusat militer Israel beberapa menit sebelum gencatan senjata diberlakukan. Klaim ini disampaikan melalui kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
Israel membantah klaim tersebut dan menunjukkan bukti berupa foto yang disebut sebagai roket Iran yang diluncurkan selama masa gencatan senjata. Bukti tersebut diunggah oleh Kedutaan Besar Israel di Inggris.
Iran balik menuding Israel melanjutkan serangan selama 90 menit setelah waktu gencatan senjata dimulai. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, sebelumnya menyatakan kesiapan Iran untuk menghentikan serangan balasan jika Israel menghentikan serangannya pada pukul 04.00 waktu Teheran.
Gambar yang dirilis Israel memperlihatkan kerusakan yang terjadi di Tel Aviv pasca serangan rudal Iran. Kerusakan ini menjadi bukti nyata dari eskalasi konflik yang terjadi.
Reaksi Internasional dan Eskalasi Konflik
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan kekesalannya terhadap situasi ini. Ia menilai baik Israel maupun Iran tidak memahami konsekuensi dari tindakan mereka.
Trump menyatakan akan berusaha menenangkan Israel dan menghentikan serangan balasan yang telah dilakukan. Pernyataan ini menunjukkan keprihatinan AS terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Trump sendiri yang sebelumnya mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Iran. Hal ini dilakukan setelah serangan Iran ke pangkalan udara AS di Al Udeid, Qatar, pada Senin (23/6/2025).
Ketidakjelasan mengenai pelanggaran gencatan senjata ini menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya konflik berskala besar. Pernyataan keras dari berbagai pihak menunjukkan betapa rapuhnya perdamaian di wilayah tersebut.
Tanggapan Pihak-Pihak Terkait dan Analisis Situasi
Koresponden Sky News, Cordelia Lynch, mengungkapkan keterbatasan informasi yang diterima dari pemerintah Israel. Hal ini membuat situasi semakin sulit diprediksi.
Lynch menambahkan bahwa upaya diplomasi intensif sedang dilakukan untuk menjaga agar gencatan senjata tetap bertahan. Upaya tersebut menunjukkan betapa pentingnya perdamaian bagi semua pihak yang terlibat.
Ketegangan ini juga memicu berbagai reaksi dari berbagai negara. Reaksi ini menunjukkan keprihatinan internasional terhadap potensi konflik berskala lebih besar di Timur Tengah.
Situasi saat ini sangat dinamis dan perkembangannya perlu dipantau secara ketat. Kejelasan informasi dan transparansi dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih lanjut.
Ketidakpastian mengenai siapa yang memulai pelanggaran gencatan senjata dan kurangnya transparansi dari kedua belah pihak, membuat situasi semakin rumit dan berpotensi memicu konflik yang lebih besar. Peran diplomasi internasional sangat krusial untuk mencegah eskalasi dan mendorong perdamaian berkelanjutan di wilayah yang rawan konflik ini. Dunia internasional menantikan langkah-langkah selanjutnya dari semua pihak untuk mende-eskalasi situasi dan mencegah terjadinya kekerasan lebih lanjut.






