Tradisi Saparan Wonolelo di Dusun Pondok Wonolelo, Sleman, Yogyakarta, merupakan perayaan tahunan yang sarat makna. Lebih dari sekadar festival budaya, acara ini menjadi penghormatan kepada Ki Ageng Wonolelo, tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Acara ini menyatukan masyarakat dalam mengenang jasa leluhurnya dan melestarikan warisan budaya.
Diselenggarakan setiap tahun, Saparan Wonolelo melibatkan berbagai rangkaian kegiatan yang menarik perhatian banyak pengunjung. Prosesi kirab menjadi daya tarik utama, menampilkan berbagai elemen budaya yang kaya dan bersejarah.
Kirab Pusaka dan Gunungan Apem: Puncak Perayaan Saparan Wonolelo
Rangkaian acara Saparan Wonolelo diawali dengan kirab pusaka Ki Ageng Wonolelo. Pusaka-pusaka bersejarah ini diarak dengan penuh hormat.
Pusaka yang dikirabkan meliputi Al-Qur’an, baju ontrokusuma, kopiah, bongkahan mustaka masjid, dan tongkat. Barang-barang ini merupakan peninggalan berharga yang melambangkan sejarah dan spiritualitas Ki Ageng Wonolelo.
Selain kirab pusaka, kirab gunungan apem juga menjadi bagian penting dari tradisi ini. Gunungan apem yang berisi ribuan buah apem ini menjadi rebutan pengunjung.
Kirab dimulai dari Masjid Pondok Wonolelo menuju Makam Ki Ageng Wonolelo sepanjang 800 meter. Rute kirab ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan spiritualitas Ki Ageng Wonolelo.
Perebutan apem ini melambangkan berbagi berkah dan keberuntungan. Tradisi ini dipercaya mendatangkan kebaikan bagi yang mendapatkannya.
Tahun ini, diperkirakan sebanyak 1,5 ton apem akan diperebutkan oleh para pengunjung. Jumlah ini menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap tradisi Saparan Wonolelo.
Ki Ageng Wonolelo: Tokoh Spiritual dan Militer di Masa Kerajaan Mataram
Ki Ageng Wonolelo, yang bernama asli Jumadi Geno, merupakan tokoh penting dalam sejarah. Ia bukan hanya seorang penyebar agama Islam, tetapi juga memiliki peran strategis di Kerajaan Mataram.
Ia merupakan keturunan Prabu Brawijaya V, menunjukkan silsilahnya yang terhubung dengan kerajaan besar di masa lalu.
Ki Ageng Wonolelo dikenal memiliki ilmu kebatinan yang tinggi. Kemampuannya ini membuatnya dihormati dan dipercaya oleh banyak orang.
Kehebatannya tidak hanya terbatas pada ilmu spiritual. Ia juga menunjukkan kemampuan militer yang mumpuni.
Raja Mataram pernah mengutusnya ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang untuk menundukkan kerajaan yang memberontak. Ki Ageng Wonolelo berhasil menyelesaikan misi tersebut.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Ki Ageng Wonolelo memilih menetap di Dusun Pondok Wonolelo dan menyebarkan ajaran Islam di sana.
Saparan Wonolelo: Pelestarian Budaya dan Warisan Takbenda Indonesia
Seiring waktu, nama Ki Ageng Wonolelo semakin dikenal luas. Banyak orang datang untuk berguru kepadanya.
Ia mewariskan banyak peninggalan, termasuk tapak tilas, pusaka, dan benda-benda keramat. Peninggalan inilah yang dihormati dan dikirabkan setiap Saparan Wonolelo.
Saparan Wonolelo tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga upaya pelestarian warisan leluhur. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam pariwisata budaya Kabupaten Sleman.
Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk mengenang, meneladani, dan mendoakan Ki Ageng Wonolelo. Nilai-nilai luhur yang diwariskannya tetap relevan hingga saat ini.
Pada tahun 2018, Saparan Wonolelo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia. Penetapan ini semakin mengukuhkan pentingnya pelestarian tradisi ini bagi generasi mendatang.
Tradisi Saparan Wonolelo berhasil menyatukan unsur religi, sejarah, dan budaya dalam satu perayaan yang unik dan bermakna. Keberlangsungan tradisi ini diharapkan mampu tetap menjaga nilai-nilai luhur dan menjadi daya tarik wisata budaya yang berkelanjutan.






