Kekeringan akibat fenomena El Nino tengah melanda beberapa wilayah di Indonesia. Dampaknya terasa nyata, khususnya bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih.
Salah satu daerah yang terdampak parah adalah Bekasi, Jawa Barat. Kelangkaan air bersih memaksa warga mencari sumber air alternatif hingga ke wilayah lain.
Warga Bekasi Mencari Air Bersih Hingga ke Kaki Gunung
Sudirja, warga Cibitung, Bekasi, menjadi contoh nyata dampak kekeringan ini. Ia rela menempuh perjalanan jauh ke kaki Gunung Cipaga di Karawang Selatan untuk memenuhi kebutuhan air bersih keluarganya.
Setiap perjalanan, ia membawa sekitar 16 galon kosong untuk diisi air dari mata air gunung. Harga air isi ulang di daerahnya mencapai Rp7.000 hingga Rp10.000 per galon, dengan kualitas yang diragukan.
Sudirja mengungkapkan, air dari Gunung Cipaga memiliki kualitas lebih baik dan tahan lama. Hal ini menjadi alasan utama ia rela menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan.
Kondisi kekeringan dan kelangkaan air bersih ini tidak hanya terjadi di Cibitung. Beberapa daerah lain di Kabupaten Bekasi juga mengalami masalah serupa.
Pertemuan Tak Terduga dengan Dedi Mulyadi
Saat sedang mengisi galonnya di Gunung Cipaga, Sudirja bertemu dengan politisi Partai Gerindra, Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi, yang kebetulan melintas di daerah tersebut, menyoroti pentingnya perhatian pemerintah terhadap masalah ini. Ia mengingatkan potensi kerusakan lingkungan akibat penambangan yang masif.
Politisi tersebut mengimbau agar penambangan di sekitar Gunung Sanggabuana, termasuk Gunung Cipaga, dihentikan. Hal ini penting untuk menjaga kelestarian sumber daya air dan mencegah bencana kekeringan yang lebih parah di masa mendatang.
Kekeringan Meluas ke Karawang
Bencana kekeringan akibat El Nino tidak hanya melanda Bekasi. Kabupaten Karawang juga mengalami dampak serupa.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, empat kecamatan terdampak kekeringan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Ciampel, Telukjambe Barat, Tegalwaru, dan Pangkalan.
Lebih dari 11.000 warga di empat kecamatan tersebut terdampak langsung akibat kekeringan. Mereka kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini menggambarkan betapa seriusnya dampak El Nino terhadap ketersediaan air bersih di beberapa wilayah Jawa Barat. Perlu upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait untuk mengatasi masalah ini.
Pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah kekeringan dan memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat terdampak. Selain itu, penting juga untuk melakukan upaya konservasi sumber daya air untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Kesadaran masyarakat untuk menghemat penggunaan air juga sangat penting.
Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Harapannya, masalah ini dapat segera teratasi dan masyarakat terdampak dapat kembali menikmati akses air bersih yang layak.






