Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, suasana khidmat dan sukacita menyelimuti puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Kristen di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon. Mereka merayakan Kenaikan Tuhan Yesus Kristus dalam sebuah ibadah yang penuh makna, Kamis pagi lalu, di Gereja Ebenhaezer yang berada di dalam lingkungan Rutan. Perayaan ini menjadi bukti nyata bahwa iman tetap teguh bahkan di tengah keterbatasan.
Peringatan Kenaikan Yesus Kristus ini bukan sekadar ritual keagamaan biasa. Ibadah ini menjadi momen refleksi spiritual yang mendalam bagi para WBP.
Ibadah Penuh Makna di Balik Jeruji
Ibadah Kenaikan Yesus di Rutan Ambon berlangsung khidmat. Para WBP terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian ibadah. Mulai dari pujian penyembahan, pembacaan Alkitab, hingga khotbah yang disampaikan Pendeta Cey Selanno. Suasana penuh hikmat terasa di setiap bait pujian dan setiap ayat yang dibacakan.
Pembacaan Alkitab dilakukan secara bergantian oleh beberapa WBP, menunjukkan partisipasi aktif mereka dalam kegiatan tersebut. Khotbah Pendeta Cey Selanno memberikan pesan yang begitu menyentuh hati para jemaat.
Dukungan Lapas dan Peran Penting Pembinaan Rohani
Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Ferdika Canra, menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan keagamaan di Rutan. Ia menekankan pentingnya pembinaan kerohanian bagi para WBP dalam proses pemulihan diri.
Pembinaan kerohanian, menurut Ferdika, merupakan bagian integral dari program pembinaan di Rutan. Hal ini bertujuan untuk membentuk karakter dan memperkuat nilai-nilai spiritual para WBP selama menjalani masa pidana.
Harapan Baru dan Pertobatan
Pendeta Cey Selanno dalam khotbahnya mengajak para jemaat untuk menjadikan peristiwa Kenaikan Yesus sebagai momentum pembaruan iman. Pesan ini sangat relevan bagi para WBP yang sedang menghadapi masa-masa penuh tantangan.
Pesan khotbah tersebut menekankan pentingnya komitmen untuk menjalani hidup baru, bahkan di balik jeruji penjara. Kenaikan Yesus membawa janji keselamatan, dan para WBP diajak untuk menggenggam janji tersebut.
Steven, salah satu WBP, mengungkapkan perasaannya setelah mengikuti ibadah tersebut. Ia merasa dikuatkan dan mendapatkan harapan baru.
Kesempatan untuk merayakan hari besar keagamaan memberikannya kekuatan untuk terus berubah dan memperbaiki diri. Kesaksian Steven menjadi cerminan dampak positif kegiatan keagamaan bagi para WBP.
Pihak Rutan berharap kegiatan keagamaan tidak sekadar menjadi rutinitas, melainkan bagian integral dari proses pertobatan dan pemulihan para WBP menuju kehidupan yang lebih baik. Ibadah ini menjadi bukti nyata bahwa kasih dan harapan tetap ada, bahkan di tengah keterbatasan.
Kegiatan ini diharapkan dapat berkelanjutan dan semakin memperkuat iman para WBP, membantu mereka menjalani masa hukuman dengan lebih tenang dan penuh harapan. Dengan begitu, proses pembinaan dan pemulihan dapat berjalan lebih efektif. Semoga perayaan Kenaikan Yesus Kristus ini menjadi titik balik bagi para WBP menuju kehidupan yang lebih baik setelah menjalani masa pidananya.






