Kesuksesan film animasi Indonesia “Jumbo” yang telah meraup lebih dari 9 juta penonton, menginspirasi banyak pihak. Salah satunya adalah Sandiaga Uno, mantan Menparekraf, yang menyatakan bahwa pencapaian “Jumbo” memperkuat keyakinannya untuk berinvestasi di industri perfilman Indonesia.
Menurutnya, film-film Indonesia yang dekat dengan budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat, terbukti memiliki daya tarik yang tinggi. Hal ini menjadi salah satu pendorong utama investasi yang telah direncanakan Sandiaga Uno dan timnya sejak lama.
Sandiaga Uno dan Investasi di Industri Perfilman
Sandiaga Uno mengungkapkan ketertarikannya pada industri film sudah berlangsung beberapa tahun. Ia berambisi untuk meningkatkan produksi film berkualitas karya sineas lokal yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Alasan utama investasi ini adalah potensi penyerapan tenaga kerja yang besar dan dampak positif terhadap perekonomian. Satu produksi film, menurutnya, mampu melibatkan lebih dari 300 kru dan pemain, belum termasuk pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses pra dan pasca produksi.
Selain itu, pasar film memiliki potensi yang sangat besar. Film berkualitas akan menarik banyak penonton, dan promosi dari mulut ke mulut juga berperan signifikan dalam kesuksesan sebuah film.
Dukungan Menteri Kebudayaan Fadli Zon
Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan dukungan positif terhadap investasi Sandiaga Uno di sektor perfilman. Ia menilai Sandiaga Uno sangat tepat berinvestasi di bidang kebudayaan dan ekonomi kreatif.
Fadli Zon menekankan pentingnya film sebagai platform media dan instrumen budaya yang dekat dengan publik global. Ia juga bersyukur atas meningkatnya dominasi film Indonesia di bioskop dalam negeri, yang kini mencapai 67-70 persen.
Sandiaga Uno menambahkan bahwa komitmen investasi asing dan domestik di industri perfilman Indonesia mencapai 200-250 juta dolar AS, dengan potensi peningkatan hingga 300 juta dolar AS.
Mempertahankan dan Meningkatkan Produksi Film Lokal
Investasi senilai kurang lebih Rp5 triliun yang digelontorkan Sandiaga Uno melalui kerjasama dengan United Media Asia (UMA) diharapkan dapat meningkatkan dan mempertahankan capaian film lokal di bioskop yang saat ini mencapai 65 persen.
Kerja sama dengan berbagai pihak juga akan dijajaki untuk menarik produksi film besar internasional di lokasi-lokasi yang berpotensi mengangkat budaya Indonesia, seperti Bali, Lombok, dan Jawa Barat.
Anka Zumi, Chief Commercial Officer UMA, menyatakan bahwa dana ini tidak hanya untuk menciptakan karya kreatif kelas dunia, tetapi juga untuk memperkuat pendidikan, infrastruktur, dan tenaga kerja kreatif.
BUMN seperti PFN dan Danantara akan terlibat dalam pengelolaan dana ini untuk proyek-proyek berdampak tinggi. Rincian lebih lanjut akan diumumkan setelah tanggal 20 Mei 2025.
Fokus investasi akan diarahkan pada produksi konten lokal, pengembangan talenta, pendidikan, teknologi, dan pembangunan infrastruktur. Hal ini mencakup produksi film dan serial televisi berkualitas tinggi, platform digital, pelatihan vokasi, hingga pusat inovasi.
Nonton Bareng Film Jumbo Bersama Sandiaga Uno
Sebagai bagian dari apresiasi terhadap film Indonesia, Sandiaga Uno bersama Yayasan Abang Mpok Sahabat Anak (YAMSA) menyelenggarakan nonton bareng film “Jumbo”. Ratusan anak-anak antusias menyaksikan film tersebut.
Acara ini dihadiri oleh Dewan Pembina YAMSA, Nur Asia Uno, dan Kak Seto. Produser film “Jumbo”, Novia Puspa Sari, juga turut hadir.
Film “Jumbo” dikerjakan oleh sekitar 420 animator Indonesia selama kurang lebih 5 tahun. Keberhasilannya dalam meraih lebih dari 2 juta penonton hanya dalam 11 hari menunjukan potensi besar perfilman Indonesia.
Sandiaga Uno menutup acara dengan pantun, mengucapkan terima kasih kepada Visinema, tim “Jumbo”, Yayasan YAMSA, dan Blibli.
Secara keseluruhan, kesuksesan “Jumbo” menjadi katalis bagi investasi besar di industri perfilman Indonesia. Dukungan pemerintah dan sektor swasta, serta talenta lokal yang besar, menunjukkan masa depan cerah bagi perfilman tanah air.






