Peribahasa “ada udang di balik batu” sering kita dengar. Ungkapan ini ternyata merefleksikan kenyataan biologis. Banyak spesies udang memang menjadikan celah dan balik batu sebagai habitatnya. Keberadaan batu memberikan perlindungan dan sumber makanan bagi mereka.
Udang merah ( *Parhippolyte uveae*), misalnya, hidup di sekitar bebatuan dan akar mangrove di perairan anchialine—danau air asin yang terhubung bawah tanah dengan laut. Penelitian di Desa Mopaano, Buton, Sulawesi Tenggara pada 2021 mengungkap hal ini.
Udang Rockpool atau udang putih (*Palaemon elegans*) juga menyukai habitat berbatu. Mereka tersebar luas di Atlantik Timur Laut, dari Norwegia hingga Namibia.
Udang mantis merak (*Stomatopoda*) yang berukuran hingga 18 cm juga menjadikan celah-celah bebatuan sebagai tempat tinggal. Batu-batu ini memberikan perlindungan dari predator dan arus laut yang kuat.
Kehidupan di Balik Batu: Lebih dari Sekedar Udang
Batu-batu di lingkungan pesisir dan sungai bukan hanya rumah bagi berbagai jenis udang. Banyak hewan lain juga menjadikan celah dan balik batu sebagai tempat berlindung dan mencari makan.
Ular
Beberapa spesies ular, seperti ular garter (*Thamophis sirtalis*), sering ditemukan di bawah batu dan bangunan. Mereka memilih lingkungan lembap dekat sumber air untuk memudahkan pelarian jika merasa terancam.
Cacing Pipih
Cacing pipih (*Platyhelminthes*) beberapa spesiesnya hidup di balik batu, terutama di perairan dangkal. Namun, beberapa jenis cacing pipih juga bersifat parasit dan dapat menginfeksi hewan dan manusia.
Laba-laba
Laba-laba pemburu (*Sparassidae*), dengan tubuh pipihnya, mampu bersembunyi di celah-celah sempit di bawah batu dan kulit kayu. Mereka seringkali masuk ke dalam rumah atau mobil untuk menghindari terik matahari.
Gila Monster
Gila monster (*Heloderma suspectum*) adalah kadal berbisa yang hidup di gurun. Untuk menghindari panas terik, mereka sering bersembunyi di liang atau di balik batu.
Hellgrammite
Hellgrammite merupakan larva dari lalat Dobson (*Corydalidae*). Larva ini hidup di balik batu sungai dan puing-puing selama 1-3 tahun sebelum bermetamorfosis menjadi lalat. Keberadaan hellgrammite menandakan kualitas air sungai yang baik.
Pika
Pika (*Ochotona*) adalah hewan pengerat yang mirip marmut. Mereka hidup di lingkungan dingin dan membuat sarang di bawah dan di balik bebatuan untuk menghindari suhu yang terlalu tinggi.
Kalajengking
Kalajengking kulit kayu (*Centriroides exilicauda*) menjadikan celah-celah batu, pohon, dan dinding sebagai tempat tinggal. Karena itu, mereka sering ditemukan di rumah-rumah.
Alasan Hewan Memilih Batu sebagai Habitat
Batu menawarkan perlindungan yang efektif dari predator. Struktur bebatuan juga menciptakan berbagai mikrohabitat yang mendukung pertumbuhan beragam organisme.
Batu juga menjadi tempat akumulasi sisa-sisa organik, seperti bangkai hewan dan alga, yang menjadi sumber makanan bagi banyak hewan. Jadi, batu bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga sumber daya penting dalam ekosistem.
Kesimpulan
Peribahasa “ada udang di balik batu” bukan hanya kiasan, tetapi juga mencerminkan fakta kehidupan berbagai hewan. Batu memberikan perlindungan, tempat bersembunyi, dan sumber makanan bagi beragam organisme, baik di lingkungan laut maupun darat. Memahami peran batu dalam ekosistem memperkaya pengetahuan kita tentang keanekaragaman hayati dan interaksi antar spesies.






