Perburuan tanda-tanda kehidupan di luar Bumi terus berlanjut. Para ilmuwan memanfaatkan teknologi canggih, terutama Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), untuk menelusuri misteri ini. Meskipun belum ada kepastian, sejumlah penemuan menjanjikan telah muncul.
Salah satu temuan menarik adalah deteksi molekul di atmosfer planet ekstrasurya K2-18b pada April 2025. Molekul ini biasanya dihasilkan oleh organisme sederhana di Bumi. Namun, peneliti masih membutuhkan data lebih lanjut untuk konfirmasi.
Teknologi Canggih dalam Mencari Kehidupan Ekstraterestrial
Tantangan utama dalam pencarian kehidupan di luar tata surya adalah menemukan lokasi yang tepat untuk pencarian tersebut. Oleh karena itu, pengembangan teknologi menjadi kunci utama.
Amerika Serikat, misalnya, sedang membangun beberapa teleskop besar dan wahana antariksa untuk mendukung misi ini. Pendekatan baru juga dikembangkan, seperti yang dilakukan oleh Profesor Daniel Apai dari Universitas Arizona.
Profesor Apai dan timnya memodelkan bagaimana organisme berbeda dapat bertahan hidup di berbagai lingkungan, berdasar penelitian tentang batas kehidupan di Bumi. Mereka juga berkolaborasi dalam pengembangan teleskop antariksa canggih, seperti Habitable Worlds Observatory milik NASA.
Teleskop ini diharapkan dapat menangkap gambar yang sangat tajam, memungkinkan observasi langsung planet yang mengorbit bintang terdekat. Namun, peneliti menyadari bahwa mengidentifikasi kehidupan dari data penginderaan jauh tetap sangat sulit, seperti yang terlihat dari klaim sebelumnya tentang kehidupan di K2-18b dan Venus.
Mencari Planet Layak Huni: Definisi Baru
Tujuan utama pencarian kehidupan adalah menemukan tempat yang layak huni bagi organisme bumi. Namun, definisi “layak huni” ini perlu diperluas.
Selama ini, keberadaan air cair menjadi kriteria utama. Namun, pendekatan baru yang lebih kuantitatif dan bernuansa diperlukan.
Proyek Alien Earths yang didanai NASA, dipimpin oleh Profesor Apai, Rory Barnes, dan para ahli lainnya, menawarkan pendekatan baru yang disebut kerangka kelayakhunian kuantitatif.
Perbedaan Pendekatan Baru
Pendekatan ini memiliki dua perbedaan utama dari metode sebelumnya. Pertama, pertanyaan “dapat dihuni atau tidak” digantikan dengan pertanyaan yang lebih spesifik: “Apakah kondisi di habitat memungkinkan spesies atau ekosistem tertentu untuk bertahan hidup?”.
Kedua, kerangka kerja ini membandingkan model komputer untuk menghitung jawaban probabilistik. Alih-alih mengasumsikan air cair sebagai faktor utama, peneliti membandingkan kondisi yang dibutuhkan organisme dengan kondisi lingkungan yang ada.
Dengan kata lain, fokus bergeser dari mencari planet yang “layak huni” secara umum ke mencari planet yang bisa menunjang kehidupan organisme spesifik.
Mempelajari Batas Kehidupan di Bumi untuk Mencari Kehidupan di Luar Bumi
Penelitian ini melibatkan studi mendalam tentang organisme ekstrem di Bumi. Para ilmuwan mempelajari organisme yang dapat bertahan hidup di lingkungan yang ekstrem, seperti serangga di Himalaya atau mikroorganisme di ventilasi hidrotermal.
Data ini digunakan untuk membuat model komputer yang memprediksi kemungkinan kelangsungan hidup organisme tersebut di lingkungan planet ekstrasurya. Sebagai contoh, peneliti sedang menyelidiki kemungkinan bakteri bertahan hidup di bawah permukaan Mars.
Pendekatan ini memungkinkan para ilmuwan untuk meneliti lebih banyak kemungkinan kehidupan di luar Bumi, memperluas cakrawala pencarian kehidupan di luar tata surya kita.
Dengan pendekatan baru ini, harapan untuk menemukan tanda-tanda kehidupan di luar Bumi semakin meningkat. Meskipun tantangan masih banyak, kombinasi teknologi canggih dan metodologi ilmiah yang inovatif memberikan optimisme bagi para ilmuwan dalam pencarian yang berkelanjutan ini.






