Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyoroti kesalahpahaman umum terkait konsep study tour atau edu-wisata. Banyak sekolah masih menganggapnya sebagai kegiatan liburan biasa, tanpa nilai edukatif yang mendalam.
Hal ini menyebabkan beberapa daerah melarang study tour karena dinilai lebih merugikan daripada bermanfaat. Padahal, jika dikelola dengan baik, edu-wisata dapat menjadi alat luar biasa untuk membangun empati lingkungan dan koneksi spiritual dengan alam sejak dini.
Kesalahpahaman Konsep Edu-wisata
Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani Mustafa, menjelaskan bahwa banyak sekolah memandang edu-wisata sebagai sekadar jalan-jalan tanpa pesan moral.
Akibatnya, manfaat edukatif dari kegiatan ini menjadi hilang dan tujuan utamanya tidak tercapai. Kemenpar berupaya meluruskan kesalahpahaman ini.
Edu-wisata: Lebih dari Sekadar Liburan
Menurut Rizky, belajar tentang alam bukan hanya soal penglihatan, tetapi juga soal empati.
Empati lingkungan harus dibina sejak kecil, melalui pengalaman langsung berinteraksi dengan alam. Anak-anak perlu diajarkan menghargai keberadaan flora dan fauna.
Pengalaman Pribadi di Larantuka
Rizki berbagi pengalaman pribadinya di Larantuka, Flores, di mana ia memeluk pohon tua berusia ratusan tahun.
Pengalaman ini membuatnya merenungkan betapa mudahnya manusia menghancurkan alam, sementara alam telah memberikan banyak manfaat bagi manusia.
Membangun Kesadaran Ekologis
Bagi Rizki, edu-wisata bukan sekadar informasi, melainkan pengisian jiwa.
Ini adalah pengalaman yang membentuk nilai dan kesadaran anak terhadap makhluk hidup lainnya. Kemenpar mendorong sekolah-sekolah untuk menyusun kegiatan study tour yang benar-benar edukatif.
Program edu-wisata harus berbasis konservasi, edukasi, dan empati untuk mencetak generasi peduli lingkungan.
Kegiatan ini tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa syukur dan penghargaan terhadap ciptaan Tuhan. Bahkan tindakan sederhana seperti memeluk pohon bisa menjadi pengalaman spiritual yang mendalam.
Kemenpar berharap sekolah-sekolah di Indonesia akan mulai menyusun program study tour yang berfokus pada edukasi dan konservasi lingkungan. Dengan demikian, edu-wisata dapat menjadi wahana efektif untuk membentuk generasi muda yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup dan melestarikan alam untuk masa depan.






