Pemudik yang melewati jalur Pemalang menuju Purbalingga, Purwokerto, atau Kebumen, mungkin pernah mendengar Rest Area Candi Batur. Lokasi yang berada di Desa Bulakan, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang ini menawarkan pengalaman unik dan menarik bagi para pelancong. Luas area seluas 3 hektar dengan suasana rindang dan asri menjadikannya tempat peristirahatan yang ideal.
Namun, nama “Candi Batur” sedikit menyesatkan. Rest area ini tidak memiliki candi seperti namanya. Nama tersebut merupakan sebutan lokal untuk area yang dulunya dianggap angker dan terdapat makam.
Misteri Nama dan Keunikan Rest Area Candi Batur
Ketua Pengelola Rest Area Candi Batur, Agus Subekti, menjelaskan asal usul nama tersebut. Warga setempat menyebut tempat-tempat yang dulunya dianggap angker dan terdapat makam sebagai “candi”.
Rest area ini memang telah lama menjadi favorit pemudik. Keunikannya terletak pada ratusan monyet liar yang berkeliaran bebas di area tersebut. Monyet-monyet ini terbiasa berinteraksi dengan manusia, sehingga pengunjung dapat berinteraksi dengan aman.
Interaksi dengan Monyet dan Fasilitas Rest Area
Pengunjung dapat membeli kacang atau pisang dari warga setempat untuk memberi makan monyet-monyet tersebut. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak pengunjung.
Rest area ini menyediakan lahan parkir yang luas dan bebas biaya masuk. Selama arus balik Lebaran hingga H+3, tercatat sekitar tiga ribu kendaraan yang singgah. Fasilitas lain yang tersedia antara lain toilet, musala, dan warung-warung UMKM yang menyediakan makanan dan minuman.
Mitos dan Kepercayaan Lokal di Candi Batur
Mitos dan kepercayaan lokal turut mewarnai keberadaan Rest Area Candi Batur. Salah satu mitos yang berkembang adalah memberi makan monyet ekor panjang akan mendatangkan rezeki berlimpah.
Mitos lainnya menyebutkan larangan menggunakan pakaian berwarna hijau muda. Warna ini konon sama dengan pakaian Dewi Rantamsari, penjaga kawasan Candi Batur dahulu kala. Kepala Desa Bulakan, Sigit Pujianto, mengakui keberadaan mitos tersebut dan keyakinan warga setempat akan hal tersebut.
Mitos dan Ritual Warga Setempat
Warga setempat meyakini bahwa melanggar mitos tersebut dapat mendatangkan musibah. Sigit menjelaskan, kepercayaan ini merupakan warisan leluhur yang harus dihormati.
Warga juga aktif menjaga kelestarian hutan lindung di sekitar rest area. Keberadaan monyet ekor panjang pun dipercaya membawa berkah bagi yang memberi mereka makan. Setiap bulan Suro, ritual penyembelihan kambing dilakukan dengan kepala kambing dikubur di sekitar mata air.
Kesimpulan: Perpaduan Alam, Satwa, dan Budaya di Rest Area Candi Batur
Rest Area Candi Batur menawarkan pengalaman unik yang memadukan keindahan alam, interaksi dengan satwa liar, dan kearifan lokal berupa mitos dan kepercayaan masyarakat. Keberadaan rest area ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan bagi para pemudik, namun juga menjadi destinasi wisata yang menarik. Keberadaan monyet-monyet dan mitos yang berkembang di sekitarnya menjadikan rest area ini sebuah tempat yang kaya akan cerita dan pengalaman tak terlupakan bagi para pengunjungnya. Pengelolaan yang baik dan pelestarian lingkungan sekitar menjadi kunci keberlanjutan destinasi wisata yang unik ini.






