Sebuah insiden penerbangan yang luar biasa terjadi pada Februari 2024 lalu, di mana pesawat Lufthansa sempat terbang tanpa pilot yang aktif mengendalikan pesawat. Insiden ini melibatkan pilot yang sedang ke toilet dan kopilot yang tiba-tiba pingsan, menimbulkan pertanyaan tentang protokol keselamatan penerbangan dan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat di udara.
Pesawat tersebut, yang membawa 199 penumpang dan enam awak kabin, tengah melakukan perjalanan dari Frankfurt, Jerman menuju Sevilla, Spanyol. Beruntungnya, autopilot aktif sehingga pesawat tetap berada di jalur penerbangan. Namun, situasi ini tetap berbahaya dan menuntut respon cepat dari pihak yang tersisa di kokpit.
Pilot Hilang, Kopilot Pingsan
Pilot pesawat Lufthansa tersebut tengah berada di toilet saat kopilot tiba-tiba pingsan. Kondisi kopilot yang tidak sadarkan diri ini membuat pesawat dalam keadaan kritis.
Meskipun autopilot menjaga pesawat tetap terbang, situasi ini tetap berbahaya karena membutuhkan pengawasan dan kendali manual jika terjadi situasi darurat lainnya. Ketiadaan pilot aktif untuk waktu yang tidak diketahui membuat situasi semakin mengkhawatirkan.
Upaya Kontak dan Pengambilan Alih Kokpit
Menyadari situasi yang genting, petugas pengendali lalu lintas udara mencoba menghubungi kopilot sebanyak tiga kali, namun tidak mendapatkan respons.
Setelah kembali dari toilet, pilot berusaha membuka pintu kokpit dengan kode akses standar. Namun, karena tidak ada respons, ia terpaksa menggunakan kode darurat untuk membuka pintu dan mengambil alih kendali pesawat.
Seorang anggota kru kokpit juga turut mencoba menghubungi dek penerbangan melalui interkom. Kegagalan komunikasi tersebut semakin menegangkan situasi yang terjadi di dalam kokpit.
Pendaratan Darurat dan Investigasi
Setelah berhasil mengendalikan pesawat, pilot memutuskan untuk mengalihkan penerbangan ke bandara Adolfo Suárez Madrid-Barajas di Madrid.
Pesawat mendarat dengan selamat sekitar 20 menit setelah pilot mengambil alih kendali. Kopilot segera mendapatkan pertolongan medis dari awak kabin dan seorang dokter yang kebetulan berada di dalam pesawat sebagai penumpang.
Setelah sadar, kopilot menyatakan bahwa ia ingat mendapatkan perawatan dari awak kabin dan dokter tersebut. Kopilot kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.
Investigasi selanjutnya mengungkapkan bahwa pingsannya kopilot diakibatkan oleh kondisi neurologis yang sebelumnya tidak diketahui dan tidak terdeteksi selama pemeriksaan medis penerbangan. Akibatnya, sertifikat medis kopilot ditangguhkan.
Otoritas Spanyol mengklasifikasikan insiden ini sebagai ‘keadaan luar biasa’ dan menekankan bahwa pilot dilatih untuk menghadapi situasi di mana pilot lain mengalami ketidakmampuan. CIAIAC juga mencatat bahwa ketidakmampuan pilot selama penerbangan, meskipun jarang, memang bisa terjadi.
Sebagai informasi tambahan, otoritas mengungkapkan telah mengidentifikasi 287 kasus ketidakmampuan pilot selama penerbangan antara tahun 2019-2024, mengutip basis data laporan kejadian transportasi yang dikelola oleh Komisi Eropa. Angka ini mengingatkan pentingnya prosedur keselamatan penerbangan dan pemeriksaan kesehatan yang ketat bagi pilot.
Insiden ini menyoroti pentingnya protokol keselamatan penerbangan yang komprehensif dan pelatihan yang memadai bagi pilot untuk menangani situasi darurat. Kejadian ini juga menjadi pengingat betapa pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala yang menyeluruh bagi para pilot untuk memastikan keselamatan penerbangan. Meskipun kejadian seperti ini relatif jarang, persiapan dan kewaspadaan tetap menjadi kunci utama dalam industri penerbangan.






