Indonesia dan Korea Selatan resmi memulai proyek kolaborasi pemberdayaan perempuan. Kemitraan ini diresmikan melalui acara Kick-off Ceremony dan Korea-Indonesia Project Steering Committee Meeting di Sekolah Perempuan Jawa Barat. Proyek yang didanai oleh Official Development Assistance (ODA) Korea Selatan ini menandai langkah besar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi perempuan Indonesia.
Kerja sama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Indonesia dan Ministry of Gender Equality and Family of Korea (MoGEF) Korea Selatan ini telah dimulai sejak tahun 2020. Proyek ini difokuskan pada pemberdayaan sosio-ekonomi perempuan melalui pelatihan vokasional.
Pelatihan Vokasional untuk Perempuan Jawa Barat
Program ODA tahun 2024 akan berlangsung dari Juli hingga Desember. Pelatihan vokasional akan mencakup berbagai bidang, termasuk memasak, kecantikan, pertanian, teknologi informasi (IT), dan e-commerce.
Selain pelatihan keterampilan, program ini juga akan memberikan pendidikan kewirausahaan dan pelatihan pra-kerja. Peserta juga akan mendapatkan edukasi tentang pengarusutamaan gender dan strategi pemasaran online.
Tujuan dan Manfaat Proyek Kolaborasi
Plt. Bidang Kesetaraan Gender Kemen PPPA, Rini Handayani, menekankan tujuan utama proyek ini adalah untuk memperkuat pemberdayaan perempuan Indonesia di bidang ketenagakerjaan dan kewirausahaan, khususnya di Jawa Barat.
Melalui proyek ini, Kemen PPPA berupaya membangun sistem pelatihan vokasional yang berkelanjutan. Sistem ini akan menghubungkan perempuan dengan pasar kerja dan menghasilkan rekomendasi kebijakan vokasional yang responsif gender.
Rini Handayani juga menyoroti enam hal penting dalam pelaksanaan proyek, termasuk strategi keberlanjutan program (exit strategy), mekanisme seleksi peserta yang transparan, dan pelibatan berbagai pemangku kepentingan.
Harapan Keberlanjutan dan Replikasi Program
Director of International Cooperation MoGEF Korea Selatan, Jeong Hoe-Jin, menyampaikan apresiasinya atas kerja sama yang telah terjalin. Ia berharap pemerintah Indonesia akan memastikan keberlanjutan program ini.
Jeong Hoe-Jin optimistis bahwa meskipun proyek ODA akan berakhir pada tahun ini, pemerintah Indonesia akan berupaya melanjutkan program pemberdayaan perempuan ini. Ia berharap model program ini dapat direplikasi di berbagai wilayah di Indonesia.
Ia menekankan pentingnya model-model program penguatan kapasitas perempuan, khususnya kurikulum pelatihan kerja, untuk direplikasi dan disebarluaskan secara luas di Indonesia.
Ketua Umum Sekolah Perempuan Jawa Barat, Raden Roro Amanda Soemedi, menyampaikan terima kasih atas dukungan MoGEF Korea dan Kemen PPPA. Ia menjelaskan bahwa pelatihan akan mencakup enam bidang, yaitu agrikultur, memasak, menjahit, kecantikan, IT, dan e-commerce.
Pelatihan akan dilaksanakan di Sekolah Perempuan Jawa Barat dan 54 SMK di 27 kabupaten/kota Jawa Barat. Sebanyak 980 perempuan ditargetkan untuk mengikuti pelatihan ini.
Kerjasama antara Kemen PPPA dan MoGEF Korea Selatan ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan pada peningkatan pemberdayaan perempuan Indonesia. Proyek ini tidak hanya memberikan pelatihan vokasional, tetapi juga membangun sistem yang berkelanjutan untuk menjamin inklusi dan kesejahteraan sosio-ekonomi perempuan di Jawa Barat, dan menjadi contoh model keberhasilan yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini menjadi bukti nyata komitmen kedua negara dalam mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan untuk berkontribusi lebih besar dalam pembangunan nasional.






