Tragedi hilangnya pendaki asal Bogor, Firdaus Ahmad Fauzi (27), di Gunung Binaiya, Maluku Tengah, akhirnya menemui titik terang setelah 22 hari pencarian. Jenazah Firdaus ditemukan di tepian Sungai Yahe pada Sabtu, 17 Mei 2025, mengakhiri keprihatinan keluarga dan tim penyelamat.
Peristiwa ini menyoroti tantangan dan risiko pendakian di Gunung Binaiya, serta pentingnya persiapan matang dan kewaspadaan selama berada di alam bebas. Kisah pencarian Firdaus menjadi pelajaran berharga bagi para pendaki lainnya.
Kronologi Hilangnya Firdaus di Gunung Binaiya
Firdaus dilaporkan hilang pada Sabtu, 26 April 2025, sekitar pukul 17.30 WIT di jalur pendakian Nasapeha, Kecamatan Tehoru. Ia terpisah dari rombongannya yang terdiri dari lima orang, termasuk dua porter, saat kondisi cuaca buruk dengan angin kencang dan kabut.
Saat terpisah, Firdaus hanya membawa tiga botol air minum dan tidak membawa makanan. Ketidakadaan makanan dan kondisi cuaca ekstrem diduga menjadi faktor utama kesulitannya bertahan hidup.
Tim pendaki dan polisi kehutanan langsung melakukan pencarian setelah menyadari Firdaus hilang. Namun, upaya awal ini belum membuahkan hasil.
Balai Taman Nasional Manusela menutup jalur pendakian Gunung Binaiya selama 13 hari, mulai 29 April hingga 11 Mei 2025, untuk memfokuskan pencarian. Pendaki yang nekat mendaki selama penutupan akan dikenakan sanksi.
Upaya Pencarian yang Terkendala Cuaca dan Komunikasi
Pencarian Firdaus menghadapi kendala signifikan berupa jaringan komunikasi yang buruk dan cuaca yang tidak menentu. Ritual adat melibatkan masyarakat setempat dalam upaya menemukan Firdaus.
Tim SAR menemukan beberapa petunjuk, termasuk jejak sepatu dan puntung rokok yang diduga milik Firdaus. Petunjuk ini ditemukan di dekat Sungai Yala dan Sungai Yahe.
Operasi SAR resmi dihentikan pada Minggu, 4 Mei 2025, setelah tujuh hari pencarian tanpa hasil. Keputusan ini berdasarkan SOP Basarnas dan telah dikoordinasikan dengan keluarga.
Meski pencarian dihentikan, evaluasi dan rencana kelanjutan pencarian akan ditinjau kembali berdasarkan perkembangan situasi.
Pencarian Dilanjutkan dan Penemuan Jenazah
Berdasarkan permintaan keluarga dan berbagai pihak, pencarian Firdaus dilanjutkan pada Senin, 12 Mei 2025. Pencarian tahap kedua difokuskan di jalur pendakian Nasapeha dan Kali Yahe.
Setelah enam hari pencarian tahap kedua, akhirnya jenazah Firdaus ditemukan di Sungai Yahe pada Sabtu, 17 Mei 2025, sekitar pukul 14.30 WIT.
Evakuasi jenazah Firdaus dilakukan dengan cara estafet melewati tiga shelter pendakian sebelum akhirnya tiba di Desa Piliana. Proses evakuasi ini cukup sulit karena medan yang terjal dan kedalaman sungai sekitar 70-80 meter.
Penyebab pasti kematian Firdaus masih belum dapat dipastikan dan membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut. Pihak Balai Taman Nasional Manusela menyatakan menunggu hasil forensik untuk memastikan penyebab kematian.
Kisah pencarian Firdaus menyadarkan pentingnya persiapan yang matang, termasuk perlengkapan yang memadai dan perencanaan rute yang cermat sebelum melakukan pendakian. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi para pendaki lainnya untuk selalu memprioritaskan keselamatan.






