Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kesenjangan antara pemahaman dan praktik keagamaan kerap menjadi sorotan. Banyak yang mengutamakan larangan agama, namun lalai dalam menjalankan ibadah wajib. Fenomena ini menarik perhatian Gus Baha, ulama kharismatik asal Rembang, yang mengungkap pandangannya mengenai hal tersebut.
Gus Baha menyoroti ketidakseimbangan ini dalam sebuah ceramah yang diunggah di kanal YouTube @SUDARNOPRANOTO pada 14 Mei 2025. Beliau mengamati sebagian besar masyarakat Indonesia lebih ketat dalam menghindari hal-hal yang haram, meskipun kurang konsisten dalam menjalankan ibadah seperti sholat dan puasa.
Fenomena Menarik: Lebih Taat pada Larangan daripada Ibadah
Gus Baha mengemukakan, banyak individu yang jarang bahkan tidak pernah sholat atau berpuasa, namun sangat menghindari konsumsi makanan haram seperti ayam tiren (ayam yang mati tanpa disembelih). Beliau menyatakan hal ini sebagai sebuah fenomena yang menarik untuk dicermati.
Menurutnya, ketegasan dalam menghindari makanan haram merupakan warisan dari para Walisongo yang menanamkan pemahaman yang kuat tentang larangan dalam ajaran Islam. Ini menunjukkan betapa mudahnya masyarakat memahami larangan dibandingkan dengan menjalankan kewajiban ibadah.
Contohnya, warung yang diketahui menjual ayam tiren akan dihindari, meskipun pelanggan tersebut tidak menjalankan sholat atau puasa. Hal ini, menurut Gus Baha, tetap menunjukkan kesadaran akan larangan meskipun ibadah utama diabaikan.
Memahami Agama secara Komprehensif: Ibadah dan Larangan Seimbang
Gus Baha menekankan pentingnya memahami ajaran Islam secara utuh dan komprehensif. Bukan hanya sekedar menghindari yang haram, tetapi juga meningkatkan kualitas dan konsistensi dalam menjalankan ibadah wajib.
Beliau mengingatkan pentingnya keseimbangan antara menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya. Mengutip Imam Syafi’i, Gus Baha mendorong untuk mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik, terutama dalam hal ibadah.
Sebagai ilustrasi, Gus Baha menceritakan pengalamannya saat kerusuhan Malari. Meskipun terjadi pencurian, masyarakat tetap mempertanyakan kehalalan makanan yang dicuri. Daging kambing banyak yang hilang, namun daging babi tidak tersentuh.
Ini menunjukkan, menurut Gus Baha, betapa kuatnya pemahaman masyarakat tentang hukum kehalalan dan keharaman makanan, meskipun dalam situasi kacau sekalipun. Kesadaran ini seharusnya juga diterapkan pada aspek ibadah.
Mencari Keseimbangan: Ibadah sebagai Pilar Utama
Gus Baha berharap masyarakat tidak hanya fokus menghindari yang haram, tetapi juga lebih serius dalam melaksanakan ibadah. Menghindari yang haram memang penting, namun ibadah merupakan pilar utama dalam kehidupan beragama.
Beliau mengingatkan bahwa beragama bukan hanya menghindari dosa, tetapi juga menjalankan perintah Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Keseimbangan antara keduanya merupakan kunci kehidupan yang lebih baik dan diridhoi Allah SWT.
Gus Baha mengajak umat muslim di Indonesia untuk terus memperbaiki diri, tidak hanya dalam hal menghindari larangan, tetapi juga dalam meningkatkan kualitas ibadah sehari-hari. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjalankan ajaran Islam secara utuh dan komprehensif.
Dalam penutup ceramahnya, Gus Baha berdoa agar semua umat muslim senantiasa diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan khusyuk dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh agama. Beliau juga menekankan pentingnya mendalami ajaran Islam agar terhindar dari pemahaman yang keliru dan tidak utuh.






