Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Pada hari-hari ini, umat Muslim dianjurkan untuk tidak berpuasa dan menikmati daging kurban yang telah disembelih.
Tradisi makan daging kurban pada Hari Tasyrik memiliki akar sejarah yang kuat. Pada masa Nabi Muhammad SAW, sebelum adanya teknologi pendingin modern, daging kurban diawetkan dengan cara diiris tipis, diberi garam, lalu dijemur di bawah sinar matahari. Metode ini merupakan cara tradisional untuk mengawetkan makanan sebelum adanya teknologi modern seperti lemari es.
Kata “Tasyrik” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “menjemur” atau “memperlihatkan kepada sinar matahari”. Hal ini merujuk pada proses pengawetan daging kurban secara tradisional. Walaupun saat ini metode pengawetan telah berkembang pesat, makna dan anjuran untuk menikmati daging kurban pada hari Tasyrik tetap relevan.
Hikmah dan Makna Hari Tasyrik
Salah satu hikmah utama Hari Tasyrik adalah untuk berbagi kebahagiaan dan berkurban dengan sesama. Daging kurban yang melimpah dibagikan kepada fakir miskin, kerabat, dan tetangga. Hal ini menumbuhkan rasa syukur, kepedulian sosial, dan mempererat tali silaturahmi.
Di masa lalu, para jamaah haji yang berasal dari berbagai daerah terpencil sangat menghargai daging kurban sebagai makanan bergizi dan berharga. Kini, dengan ketersediaan daging yang lebih mudah, anjuran untuk mengonsumsi daging kurban di hari Tasyrik bertujuan agar mereka tidak ragu untuk menikmati hasil jerih payah ibadah kurban.
Hari Tasyrik juga menjadi momentum untuk mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah tersebut mengajarkan kita tentang ketaatan, keikhlasan, dan kesabaran dalam menghadapi cobaan.
Amalan Sunnah di Hari Tasyrik
Selain menikmati daging kurban, ada beberapa amalan sunnah yang dapat dilakukan pada hari Tasyrik, antara lain:
- Mengerjakan shalat sunnah Dhuha
- Berzikir dan berdoa kepada Allah SWT
- Bersedekah kepada fakir miskin
- Membaca Al-Qur’an
- Memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil
Namun perlu diingat, puasa pada hari Tasyrik diharamkan, kecuali bagi mereka yang tidak mampu berkurban. Mereka yang tidak berkurban diwajibkan berpuasa selama tiga hari pada saat ibadah haji dan tujuh hari setelah kembali ke tanah air.
Perbedaan Pendapat Mengenai Durasi Hari Tasyrik
Terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai jumlah hari dalam Hari Tasyrik. Pendapat yang paling umum adalah tiga hari, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Namun, ada juga pendapat yang membatasi hanya pada tanggal 11 dan 12 Zulhijjah. Perbedaan ini tidak mengurangi esensi dan anjuran untuk berbagi kebahagiaan dan menikmati daging kurban.
Kesimpulan
Hari Tasyrik merupakan hari yang penuh berkah bagi umat Islam. Selain sebagai hari untuk menikmati daging kurban, hari ini juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, berbagi dengan sesama, dan merenungkan nilai-nilai keikhlasan dan pengorbanan. Dengan memahami sejarah dan makna Hari Tasyrik, kita dapat semakin mensyukuri nikmat Allah SWT dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan lebih baik.
Sebagai penutup, penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa Hari Tasyrik bukanlah sekadar hari untuk menikmati hidangan daging. Lebih dari itu, hari ini merupakan waktu untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT, menumbuhkan rasa syukur, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.





