Dalam budaya Sunda, terdapat konsep “Karuhun” yang lebih dari sekadar leluhur. Karuhun mewakili nilai-nilai kehidupan, kearifan lokal, dan pedoman moral yang masih relevan hingga kini. Konsep ini dipopulerkan oleh tokoh seperti Dedi Mulyadi, yang menjadikan pelestarian budaya Sunda sebagai bagian penting dari kepemimpinannya.
Memahami Karuhun berarti memahami inti dari kebudayaan Sunda, sebuah warisan yang kaya akan nilai-nilai luhur dan relevansi bagi kehidupan modern.
Apa Itu Karuhun dan Maknanya bagi Masyarakat Sunda?
Karuhun, dalam bahasa Sunda, berarti leluhur atau nenek moyang. Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar silsilah keluarga.
Karuhun merupakan sumber kearifan lokal yang menjadi pedoman hidup bagi masyarakat Sunda. Mereka adalah simbol nilai-nilai luhur dan ajaran moral yang diwariskan turun-temurun.
Ajaran Karuhun menekankan keseimbangan hidup antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa. Kehidupan yang sederhana, harmonis, dan berlandaskan kebaikan merupakan inti dari filosofi ini.
Nilai-Nilai Karuhun yang Tetap Relevan di Era Modern
Meskipun hidup di masa lampau, nilai-nilai Karuhun tetap relevan dan bahkan semakin penting di era modern ini. Beberapa di antaranya adalah:
- Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh: Prinsip ini mengajarkan pentingnya saling mengasah pengetahuan, saling mengasihi, dan saling mengasuh dalam membangun masyarakat yang harmonis.
- Hirup Sauyunan: Nilai ini menekankan pentingnya hidup rukun, saling membantu, dan menghindari individualisme. Gotong royong menjadi kunci dalam kehidupan bermasyarakat.
- Ngajenan Alam: Karuhun mengajarkan penghormatan dan pelestarian alam. Manusia dianggap sebagai bagian dari alam, bukan penguasa yang berhak mengeksploitasi.
- Sunda Wiwitan: Sistem kepercayaan asli Sunda yang menekankan keseimbangan hidup dengan alam dan Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan ini mengajarkan kesederhanaan dan kerendahan hati.
Nilai-nilai ini menjadi landasan bagi kehidupan masyarakat Sunda yang berkelanjutan dan harmonis.
Dedi Mulyadi dan Upaya Pelestarian Budaya Karuhun
Dedi Mulyadi, mantan Bupati Purwakarta dan Gubernur Jawa Barat, merupakan salah satu tokoh yang gigih melestarikan budaya Karuhun.
Ia dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang kental dengan nilai-nilai budaya Sunda dan sering menyinggung ajaran Karuhun dalam setiap kesempatan.
Dedi Mulyadi percaya bahwa kemajuan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kearifan lokal yang diwariskan oleh Karuhun.
Salah satu inisiatifnya adalah pembangunan Pusat Kebudayaan Sunda, terinspirasi dari keberhasilan Pusat Kebudayaan Bali, sebagai wadah pelestarian dan pengembangan budaya Sunda.
Komunitas adat yang masih menjalankan ajaran Karuhun, seperti AKUR Sunda Wiwitan di Cigugur (Kuningan), juga menjadi bukti nyata kelestarian budaya Sunda.
Tradisi seperti Seren Taun yang rutin digelar merupakan perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada alam dan leluhur.
Di era modern yang penuh tantangan, nilai-nilai Karuhun memberikan panduan moral yang berharga. Kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan kunci untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna dan berkelanjutan. Meskipun tidak perlu secara harfiah kembali ke masa lalu, menyerap dan mengaplikasikan nilai-nilai Karuhun dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi langkah positif bagi generasi sekarang dan masa depan.






