Serangan rudal besar-besaran dari Iran ke Israel telah menguji ketangguhan sistem pertahanan udara Israel, terutama Iron Dome. Ratusan rudal yang ditembakkan sejak akhir pekan lalu memaksa Israel untuk mengandalkan seluruh kemampuan pertahanannya.
Sistem Iron Dome, yang selama ini dianggap sebagai salah satu yang paling efektif di dunia, kini menghadapi tantangan serius. Kemampuannya untuk mencegat hujan rudal balistik Iran menjadi sorotan utama konflik ini.
Cara Kerja Iron Dome Israel
Iron Dome, sistem pertahanan udara yang dikembangkan oleh Rafael Advanced Defense Systems dan Israel Aerospace Industries dengan dukungan Raytheon (AS), terdiri dari beberapa lapis pertahanan.
Lapisan pertamanya berfokus pada pertahanan artileri jarak pendek dan roket. Sistem ini terbukti efektif dalam berbagai pertempuran sebelumnya.
Lapisan selanjutnya terdiri dari jaringan radar canggih, pusat komando dan kontrol, dan penangkis rudal. Radar dengan cepat mendeteksi ancaman yang masuk.
Pusat komando dan kontrol kemudian memprioritaskan ancaman dan mengirimkan penangkis untuk mencegat rudal atau roket yang masuk. Proses ini berlangsung dengan sangat cepat.
David’s Sling: Perisai Anti-Rudal Jarak Jauh
Untuk menghadapi ancaman rudal balistik jarak jauh, seperti yang diluncurkan Iran, Israel juga mengandalkan sistem David’s Sling.
Dikembangkan bersama oleh Rafael Advanced Defense Systems (Israel) dan Raytheon (AS), David’s Sling beroperasi sejak 2017. Sistem ini dirancang untuk mencegat rudal yang mengancam pemukiman sipil.
Sistem ini bekerja sama dengan Arrow 2 dan Arrow 3. Arrow 2 dirancang untuk menghancurkan rudal balistik jarak pendek dan menengah pada ketinggian sekitar 50 km.
Sementara itu, Arrow 3 memiliki jangkauan hingga 2.400 km dan mampu mencegat rudal balistik jarak jauh, bahkan di luar atmosfer bumi.
Dukungan AS dalam konflik ini juga terlihat. Pada 2024, AS telah mengerahkan kapal perang dengan sistem Aegis untuk membantu pertahanan Israel.
Rudal Balistik Iran: Ancaman Cepat dan Mematikan
Iran memiliki gudang rudal balistik dan drone jarak jauh yang signifikan. Rudal-rudal balistik ini bergerak dalam lintasan balistik yang dipengaruhi gravitasi.
Jarak Iran ke Israel sekitar 1.000 km, sehingga Iran kemungkinan menggunakan rudal balistik jarak menengah. Jenis rudal yang digunakan dalam serangan terbaru masih belum sepenuhnya teridentifikasi.
Beberapa rudal yang dimiliki Iran termasuk Fattah-1 dan Emad. Kecepatan tinggi rudal balistik ini menyulitkan sistem pertahanan Israel untuk menangkisnya.
Sementara Israel memiliki Iron Dome dan David’s Sling, Iran juga memiliki sistem pertahanan udara seperti S-300 Rusia, yang lebih efektif dalam menghadapi rudal balistik jarak pendek.
Meskipun fokus serangan Israel tertuju pada pertahanan udara Iran, Iran nampaknya memiliki senjata rahasia. Mereka sedang mengembangkan hulu ledak bermanuver yang sulit dilawan, meskipun belum jelas apakah teknologi ini sudah dikerahkan.
Konflik ini menunjukkan kompleksitas perlombaan senjata modern, di mana kemajuan teknologi pertahanan terus diimbangi dengan pengembangan senjata yang semakin canggih dan sulit diantisipasi.
Keberhasilan maupun kegagalan masing-masing sistem pertahanan akan terus dievaluasi dan dipelajari untuk meningkatkan kemampuan dan daya tangkal di masa depan. Dampak jangka panjang dari konflik ini terhadap stabilitas regional juga patut menjadi perhatian.






