Pariwisata Yogyakarta, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah, kini menghadapi tantangan serius. Jumlah wisatawan yang membludak, infrastruktur yang tidak merata, dan komersialisasi budaya mengancam keberlanjutan sektor vital ini. Sejumlah pakar menilai, jika tidak segera ditangani, Yogyakarta berada di ambang krisis pariwisata.
Salah satu pihak yang menyoroti hal ini adalah RM Kukuh Hertriyasning, pengamat wisata dan cucu Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Beliau, yang akrab disapa Ndoro Aning, menekankan perlunya pengaturan dan pembatasan jumlah wisatawan, serta prioritas pada pelestarian lingkungan dan budaya lokal.
Overtourism dan Dampaknya pada Yogyakarta
Fenomena overtourism telah menyebabkan sejumlah destinasi ikonik di Yogyakarta mengalami kepadatan yang ekstrem. Kawasan Malioboro, Taman Sari, dan pantai-pantai di Gunungkidul menjadi contoh nyata.
Kepadatan ini tidak hanya menurunkan kenyamanan wisatawan, tetapi juga meningkatkan volume sampah dan kerusakan lingkungan. Pembangunan yang dilakukan tanpa kajian lingkungan yang mendalam semakin memperparah situasi.
Minimnya Fasilitas Akomodasi dan Solusi Investasi
Lonjakan jumlah wisatawan juga dibarengi dengan minimnya fasilitas akomodasi yang memadai. Kurangnya investasi di sektor akomodasi alternatif membuat wisatawan kesulitan mencari penginapan, terutama di musim liburan.
M. Syarif Hidayat dari Royal D’Paragon Land mengakui hal ini. Ia menjelaskan bahwa keterbatasan lahan dan infrastruktur yang belum optimal mendorong perlunya solusi baru di sektor akomodasi.
Royal D’Paragon Land sendiri menawarkan solusi berupa indekos eksklusif dan villa berbasis co-ownership. Model kepemilikan bersama ini dinilai menarik bagi investor dan dapat berkontribusi pada pendapatan daerah melalui pajak dan transaksi properti.
Kebijakan Berkelanjutan untuk Pariwisata Yogyakarta
Ndoro Aning menegaskan bahwa pembangunan fisik saja tidak cukup untuk menopang pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan. Perlindungan terhadap UMKM lokal sangat penting.
Penataan ruang yang adil dan pelestarian budaya juga menjadi kunci keberhasilan. Ketiga hal tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari ekosistem pariwisata yang sehat.
Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk merumuskan kebijakan pariwisata yang lebih bijak dan berkelanjutan. Pariwisata harus mampu memberikan kehidupan yang adil bagi masyarakat, bukan hanya keuntungan jangka pendek.
Tantangan yang dihadapi Yogyakarta saat ini memerlukan langkah-langkah komprehensif. Perpaduan antara pengembangan infrastruktur, peningkatan kapasitas akomodasi, dan pelestarian budaya dan lingkungan menjadi kunci untuk memastikan masa depan pariwisata Yogyakarta yang cerah dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan yang terintegrasi dan komitmen dari semua pihak yang terlibat, Yogyakarta dapat mengatasi tantangan overtourism dan memastikan bahwa sektor pariwisata tetap menjadi penggerak utama perekonomian daerah, sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungannya.






