Keindahan destinasi wisata yang dipamerkan di media sosial seringkali tak sesuai dengan kenyataan. Banyak yang berakhir mengecewakan, bahkan menimbulkan pengalaman buruk bagi wisatawan.
Hal ini dialami oleh Dale Philip, seorang YouTuber terkenal asal Skotlandia, saat berlibur di Bali akhir tahun 2024. Menurut laporan Yahoo News pada 29 Januari 2025, Dale mengaku menyesal mengunjungi Air Terjun Pengempu.
Kekecewaan di Air Terjun Pengempu
Dale awalnya tertarik mengunjungi air terjun tersebut karena keindahannya yang viral di media sosial. Namun, kenyataan yang ia temukan sangat berbeda.
Ia mengungkapkan kekecewaannya di media sosial, “Saya melihat tempat ini tampak luar biasa di banyak foto Instagram yang mencolok dan glamor. Saat saya sendiri sampai di sana, saya menemukan bahwa tempat itu dipenuhi sampah.”
Dalam video TikTok-nya, Dale memperlihatkan banyak sampah berserakan di sekitar air terjun. Kondisi ini membuatnya urung berenang.
“Saya tidak menyangka melihat sampah-sampah ini tergeletak di sini. Itu sungguh memalukan! Benar-benar memalukan. Saya yakin Anda tidak akan melihatnya di foto Instagram siapa pun… yah, itulah kenyataannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Tetapi, airnya tidak bersih, apalagi dengan banyaknya sampah dan sebagainya, mungkin tidak aman sama sekali untuk berenang di air tersebut. Saya cukup yakin itu akan membuat saya sakit.”
Dale mencoba berpikiran positif, menduga sampah tersebut terbawa aliran sungai, bukan ulah wisatawan.
Dale bahkan menyarankan pengelolaan tempat wisata tersebut dengan pengenaan tiket masuk sebesar Rp 10.000. Uang tersebut diharapkan dapat digunakan untuk membersihkan sampah setiap hari.
Ancaman Sampah bagi Pariwisata Berkelanjutan di Bali
Profesor Joseph Cheer dari Western Sydney University menjelaskan bahwa sampah merupakan ancaman serius bagi pulau-pulau wisata.
Ia menambahkan, “Tentu saja dengan semakin banyaknya wisatawan di sana (di Bali) akan memperbesar jumlah botol plastik sekali pakai yang dibuang ke tempat sampah.”
Menurut Profesor Cheer, masalah sampah plastik di Bali juga disebabkan oleh infrastruktur pengelolaan sampah yang buruk.
Sebagai salah satu ketua Dewan Masa Depan Global Forum Ekonomi Dunia untuk Masa Depan Pariwisata Berkelanjutan, Profesor Cheer menyatakan video Dale menjadi pengingat penting. Bali, menurutnya, belum memiliki kapasitas untuk mendaur ulang dan menangani volume sampah plastik yang besar.
“Pertanyaannya adalah, ketika Anda pergi ke pulau-pulau ini, bagaimana Anda bisa mengubah perilaku Anda sebagai turis untuk memastikan bahwa Anda tidak menambah masalah? Pertimbangkan konsumsi Anda terhadap sesuatu dan bagaimana hal ini menambah tantangan yang dihadapi komunitas pulau kecil seperti itu,” jelasnya.
Ia juga menyarankan pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan, salah satunya menyediakan tempat pengisian air minum gratis.
“Jika wisatawan membawa botol minum mereka sendiri dan pihak berwenang menyediakan sumber minuman yang menyediakan air minum yang aman, Anda bisa melakukan perubahan kecil, bukan?” tambahnya.
Perlu Perubahan Perilaku Wisatawan dan Pemerintah
Pengalaman Dale Philip di Air Terjun Pengempu menjadi contoh nyata dampak buruk wisata yang tidak berkelanjutan.
Keindahan alam yang ternodai sampah merupakan masalah serius yang membutuhkan tindakan nyata dari berbagai pihak, baik wisatawan maupun pemerintah.
Kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah yang efektif menjadi kunci keberhasilan pariwisata berkelanjutan di Bali dan destinasi wisata lainnya.
Solusi komprehensif yang melibatkan edukasi wisatawan, peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah, dan regulasi yang tegas sangat dibutuhkan untuk memastikan keindahan alam tetap lestari.






