Remaja perempuan ternyata berisiko lebih tinggi mengalami gangguan dismorfik tubuh (BDD) dibandingkan remaja laki-laki. Sebuah studi di Inggris menemukan angka kejadian BDD pada remaja perempuan mencapai enam kali lipat lebih tinggi. Kondisi ini berdampak signifikan pada kesehatan mental dan kualitas hidup mereka, sehingga perlu mendapat perhatian serius.
BDD adalah kondisi kesehatan mental yang membuat penderitanya terobsesi dengan kekurangan fisik yang dianggapnya ada pada dirinya. Kekhawatiran ini seringkali berlebihan dan tidak sesuai dengan realita, bahkan dapat menyebabkan kecemasan dan depresi.
Memahami Gangguan Dismorfik Tubuh (BDD) pada Remaja Perempuan
Studi terbaru yang melibatkan lebih dari 7.600 anak dan remaja di Inggris mengungkapkan fakta mengejutkan. 1,8 persen anak perempuan mengalami BDD, jauh lebih tinggi dibandingkan 0,3 persen anak laki-laki.
Gejala BDD meliputi pemeriksaan berulang di cermin, menghindari situasi sosial karena takut dinilai penampilannya, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk memperbaiki penampilan.
Kondisi ini seringkali tidak terdeteksi dan didiagnosis, membuat penderita menderita dalam kesendirian. Pengaruh media sosial dan standar kecantikan yang tidak realistis dipercaya turut berperan dalam peningkatan kasus BDD.
Faktor Risiko dan Penyebab BDD
Meskipun penyebab pasti BDD belum diketahui secara pasti, beberapa faktor meningkatkan risiko seseorang mengalaminya.
Faktor genetika memegang peran penting, dengan kemungkinan adanya predisposisi genetik terhadap gangguan kecemasan dan depresi yang juga sering menyertai BDD.
Struktur dan fungsi otak juga diduga terlibat. Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan aktivitas otak pada penderita BDD dibandingkan dengan orang yang tidak mengalaminya.
Pengaruh budaya dan media massa juga turut berpengaruh, terutama standar kecantikan yang tidak realistis dan tekanan sosial untuk selalu tampil sempurna.
Pengalaman masa kecil yang traumatis, seperti perundungan atau kritik yang berlebih terhadap penampilan fisik, dapat meningkatkan risiko perkembangan BDD.
Deteksi Dini dan Pengobatan BDD
Deteksi dini BDD sangat penting untuk mencegah dampak negatif yang lebih luas pada kesehatan mental remaja perempuan.
Para ahli menyarankan peningkatan kesadaran akan BDD melalui edukasi kepada orang tua, guru, dan tenaga kesehatan.
Skrining rutin terhadap remaja, khususnya perempuan, dapat membantu mengidentifikasi kasus BDD pada tahap awal.
Terapi kognitif perilaku (CBT) merupakan salah satu metode pengobatan yang efektif untuk BDD. CBT membantu individu mengubah pola pikir dan perilaku negatif yang berkaitan dengan citra tubuh.
Dalam beberapa kasus, pengobatan dengan antidepresan juga mungkin diperlukan untuk membantu mengelola gejala seperti kecemasan dan depresi yang seringkali menyertai BDD.
Dukungan keluarga dan lingkungan sosial yang positif sangat penting dalam proses pemulihan penderita BDD. Penerimaan diri dan pengembangan rasa percaya diri merupakan kunci keberhasilan terapi.
Kesimpulannya, BDD merupakan kondisi serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan yang tepat. Deteksi dini, skrining yang efektif, dan pengobatan berbasis bukti merupakan langkah penting untuk membantu remaja perempuan yang mengalami gangguan ini.
Peningkatan kesadaran masyarakat dan dukungan dari berbagai pihak sangat krusial untuk mengurangi stigma dan beban yang ditanggung oleh para penderita BDD, serta memfasilitasi akses mereka pada perawatan yang tepat.






