Kelompok Hamas di Jalur Gaza mengeksekusi mati sejumlah terduga pelaku penjarahan. Eksekusi ini dilakukan menyusul beberapa insiden penjarahan toko makanan dan dapur umum oleh geng bersenjata di wilayah tersebut.
Sumber-sumber yang dekat dengan Hamas membenarkan eksekusi tersebut kepada Reuters, meskipun jumlah korban tidak diungkapkan secara rinci. Hamas menuduh para penjarah bekerja sama dengan Israel, yang telah memblokade bantuan kemanusiaan ke Gaza selama dua bulan terakhir.
Tuduhan Keterlibatan Israel dan Respon Hamas
Pihak Hamas menuduh para penjarah berkolaborasi dengan Israel. Mereka mengaitkan aksi penjarahan dengan blokade bantuan kemanusiaan yang diberlakukan Israel selama dua bulan terakhir.
Israel sendiri belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan tersebut. Ketegangan antara Hamas dan Israel masih tinggi pasca-konflik Oktober 2023.
Insiden Kekerasan dan Eskalasi Keamanan
Sebuah insiden melibatkan serangan drone Israel terhadap unit polisi Gaza yang mengejar para penjahat. Serangan ini menyebabkan satu polisi tewas dan beberapa lainnya luka-luka.
Kementerian Dalam Negeri Gaza, yang berada di bawah kendali Hamas, menyatakan akan menindak tegas para penjarah. Mereka menegaskan komitmen untuk melindungi warga dan menjamin keamanan di Jalur Gaza.
Direktur kantor media pemerintah Gaza, Ismail Al-Thawabta, menambahkan bahwa beberapa penjarah tergabung dalam kelompok-kelompok terorganisir, bahkan ada yang diduga menerima dukungan langsung dari Israel. Klaim ini belum diverifikasi secara independen.
Situasi Kemanusiaan dan Tanggapan Internasional
Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk akibat blokade dan serangkaian konflik. Warga Gaza menghadapi kesulitan akses terhadap makanan dan kebutuhan pokok lainnya.
PBB telah memperingatkan tentang memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza. Organisasi internasional tersebut menyerukan penghentian blokade dan peningkatan bantuan kemanusiaan.
Israel membela kebijakan blokade dengan alasan mencegah Hamas menyalahgunakan bantuan untuk kepentingan militer. Hamas membantah tuduhan tersebut.
Seorang warga Gaza City, Ahmed, menggambarkan situasi yang mencekam akibat ulah para penjarah. Menurutnya, para penjarah tersebut memperparah penderitaan warga Gaza yang sedang dilanda krisis kemanusiaan.
Akibatnya, sayap bersenjata Hamas memberlakukan jam malam untuk membatasi pergerakan warga sipil dan menangkap para penjahat. Langkah ini bertujuan untuk meminimalisir aksi penjarahan dan menciptakan keamanan.
Ketegangan di Jalur Gaza terus meningkat. Eksekusi mati oleh Hamas, meskipun dilakukan sebagai respon terhadap penjarahan, menunjukkan betapa kompleks dan rawannya situasi di wilayah tersebut. Krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung, ditambah dengan tuduhan keterlibatan aktor eksternal, memperumit upaya untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di Gaza.






