Angkatan Laut Ukraina berhasil menorehkan prestasi gemilang dalam konflik dengan Rusia. Mereka mengklaim telah menghancurkan sebuah jet tempur Sukhoi Su-30 senilai USD 50 juta (sekitar Rp 823 miliar) menggunakan drone laut. Keberhasilan ini diklaim sebagai yang pertama kalinya dalam sejarah dunia.
Kejadian tersebut dipublikasikan oleh Badan Intelijen Militer Ukraina (GUR) melalui media sosial, menampilkan video yang diduga menunjukkan serangan drone laut Magura dekat pelabuhan Novorossiysk, Rusia. Drone tersebut, dilengkapi hulu ledak rudal, dilaporkan menggunakan rudal udara-ke-udara R-73.
Serangan Drone Laut Magura: Sebuah Prestasi Perdana
Militer Ukraina menyatakan bahwa penghancuran Su-30 oleh drone laut Magura merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka mengklaim ini sebagai bukti kemajuan teknologi militer Ukraina dalam peperangan modern.
Video yang beredar memperlihatkan momen jatuhnya pesawat tempur Rusia tersebut. Pihak Ukraina menegaskan pesawat itu terbakar di udara sebelum jatuh ke Laut Hitam.
Kementerian Pertahanan Ukraina menyebut peristiwa ini sebagai “era baru dalam peperangan di laut,” menekankan efektivitas teknologi drone dalam konteks konflik berskala besar.
Spesifikasi Jet Tempur Sukhoi Su-30 dan Dampak Strategis
Sukhoi Su-30 adalah pesawat tempur canggih bermesin ganda dan dua tempat duduk. Dikembangkan di Uni Soviet pada tahun 1980-an, pesawat ini dikenal sebagai jet tempur multiperan yang mampu beroperasi dalam berbagai kondisi cuaca.
Rusia dilaporkan memiliki sekitar 130 unit Su-30SM yang beroperasi pada tahun 2024. Kehilangan satu unit pesawat tempur canggih ini merupakan pukulan telak bagi kekuatan udara Rusia.
Penghancuran Su-30 juga memiliki implikasi strategis yang signifikan. Hal ini dapat mempengaruhi perhitungan kekuatan militer Rusia di Laut Hitam dan sekitarnya.
Implikasi Penggunaan Drone Laut dalam Perang Modern
Keberhasilan serangan drone laut Ukraina ini menunjukkan potensi baru dalam peperangan maritim. Drone laut terbukti mampu menghancurkan target udara yang bergerak cepat dan canggih.
Penggunaan drone ini menawarkan keuntungan strategis, termasuk biaya operasional yang relatif rendah dan risiko yang lebih kecil bagi personel militer.
Ini juga memaksa negara-negara lain untuk mempertimbangkan kembali strategi pertahanan laut mereka, khususnya dalam menghadapi ancaman dari teknologi drone yang semakin canggih.
Sebelumnya, Ukraina telah menggunakan drone laut Magura V5 untuk menghancurkan dua helikopter Mi-8 Rusia pada 31 Desember 2024. Ini menandai serangan drone laut pertama di dunia terhadap target udara dari laut.
Konflik di Laut Hitam semakin intensif setelah penolakan Presiden Rusia Vladimir Putin terhadap gencatan senjata. Kejadian ini menunjukkan eskalasi konflik dan perlombaan teknologi militer di antara kedua belah pihak.
Keberhasilan Ukraina dalam menggunakan drone laut membuka babak baru dalam perang modern, menunjukkan bahwa teknologi yang relatif terjangkau dapat memberikan dampak signifikan dalam pertempuran maritim.
Ke depan, kita dapat mengharapkan perkembangan teknologi drone laut yang lebih pesat, seiring dengan peningkatan investasi dalam penelitian dan pengembangan di berbagai negara.






