Perempuan dan cara berpakaiannya seringkali menjadi perbincangan, terutama dalam konteks agama Islam. Banyak pertanyaan muncul mengenai hukum mengenakan rok atau celana, apakah keduanya diperbolehkan selama menutup aurat, atau adakah batasan lain yang perlu diperhatikan? Penjelasan dari Buya Yahya, seorang pendakwah Indonesia yang dikenal bijaksana, memberikan pencerahan mengenai hal ini. Penjelasan tersebut dapat ditemukan dalam video di kanal YouTube @buyayahyaofficial.
Buya Yahya menekankan pentingnya memahami tujuan utama berpakaian, yaitu menutup aurat. Hal ini harus dipenuhi dengan dua syarat utama.
Syarat Utama Menutup Aurat Menurut Buya Yahya
Pertama, pakaian harus menutup seluruh aurat yang diharamkan untuk dilihat. Kedua, pakaian tidak boleh menampakkan bentuk tubuh. Buya Yahya menjelaskan bahwa pakaian harus menutupi seluruh bagian tubuh yang seharusnya terjaga, tanpa menonjolkan lekuk tubuh. Ini berarti, bukan hanya kain yang menutupi, namun juga bagaimana kain tersebut membentuk tubuh.
Model Pakaian: Gamis atau Bukan?
Pertanyaan mengenai model pakaian, apakah harus gamis atau tidak, seringkali muncul. Buya Yahya menjelaskan bahwa bentuk pakaian bukanlah hal yang paling penting. Yang utama adalah pakaian tersebut mampu menutup aurat dan tidak menonjolkan lekuk tubuh secara mencolok. Rok, celana, atau gamis, semuanya diperbolehkan asalkan memenuhi syarat tersebut. Kebebasan berbusana tetap dihargai selama memenuhi kriteria menutup aurat dan tidak ketat.
Menjaga Kesucian Hati dan Pikiran
Buya Yahya juga menyoroti pentingnya menghindari pakaian yang ketat, meskipun terlihat longgar. Pakaian yang ketat, meski longgar secara keseluruhan, dapat menonjolkan lekuk tubuh dan mengundang pandangan yang tidak diinginkan. Pakaian tidak boleh menggoda syahwat kaum pria. Ini merupakan bagian penting dari menjaga kesucian hati dan pikiran, bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga lingkungan sekitar. Menutup aurat adalah ibadah, yang setiap detiknya memberikan pahala bagi perempuan yang melakukannya dengan benar.
Konteks dan Kebijaksanaan Berpakaian
Buya Yahya juga menjelaskan bahwa aturan berpakaian dapat berbeda di berbagai konteks, seperti sekolah atau tempat kerja. Namun, prinsip dasar tetap sama: pakaian harus menutup aurat dan tidak menonjolkan bentuk tubuh. Meskipun terdapat aturan khusus di suatu lingkungan, prinsip menutup aurat tetap menjadi pedoman utama. Hal ini juga menyiratkan pentingnya bijaksana dalam berpakaian, menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa mengabaikan prinsip-prinsip agama.
Menghindari Penghinaan Terhadap Mereka yang Belum Sempurna
Penting untuk diingat bahwa tidak semua perempuan mampu menutup aurat dengan sempurna karena berbagai kendala, seperti izin dari orang tua atau suami, atau lingkungan yang tidak mendukung. Buya Yahya mengingatkan agar kita tidak merendahkan atau menghina mereka yang belum mampu memenuhi tuntutan tersebut secara sempurna. Sebaliknya, kita harus saling mendukung dan mendoakan mereka.
Pakaian yang Tidak Mengundang Pandangan Tidak Baik
Buya Yahya menekankan bahwa pakaian yang dikenakan bukan hanya untuk dilihat orang lain, tetapi juga untuk diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Baik di rumah, di hadapan keluarga, maupun pembantu laki-laki, perempuan harus menjaga penampilannya agar tetap sesuai syariat. Pakaian yang kita kenakan tidak boleh menjadi alasan yang mengundang pandangan yang tidak baik. Ini adalah bentuk menjaga kesucian hati dan pikiran.
Menutup aurat adalah kewajiban muslimah, namun harus dilakukan dengan kesadaran dan niat karena Allah. Pakaian yang longgar dan tidak menonjolkan lekuk tubuh adalah salah satu caranya. Setiap upaya menutup aurat adalah ibadah. Penjelasan Buya Yahya memberikan pencerahan di tengah berbagai perdebatan seputar busana muslimah. Dengan tetap menjaga prinsip menutup aurat dan tidak menonjolkan lekuk tubuh, perempuan dapat menjalankan ajaran agama dengan baik. Semoga kita semua diberikan hidayah dan kemudahan dalam menjalankan kewajiban sebagai umat Islam.






