Ketegangan antara India dan Pakistan kembali memanas. Dukungan Turki dan Azerbaijan terhadap Pakistan dalam konflik terbaru memicu reaksi keras dari warga India. Hal ini berdampak signifikan pada industri pariwisata kedua negara tersebut.
Boikot besar-besaran dilakukan oleh wisatawan India. Banyak perjalanan ke Turki dan Azerbaijan dibatalkan sebagai bentuk protes atas dukungan yang diberikan terhadap Pakistan.
Latar Belakang Konflik India-Pakistan
Konflik ini berawal dari serangan teror di Pahalgam, India pada 22 April 2025. Serangan tersebut menewaskan 26 orang dan memicu operasi militer balasan dari India yang dikenal sebagai Operasi Sindoor.
Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat setelah Turki menyatakan dukungannya terhadap penyelidikan internasional atas insiden tersebut. Azerbaijan juga turut menyuarakan dukungannya kepada Pakistan.
Situasi ini diperburuk dengan pengiriman senjata dari Turki ke Pakistan. Hal ini semakin menguatkan sentimen anti-Turki dan anti-Azerbaijan di India.
Dampak Boikot terhadap Pariwisata Turki dan Azerbaijan
Industri pariwisata di Turki dan Azerbaijan merasakan dampak signifikan dari boikot tersebut. Perusahaan perjalanan melaporkan peningkatan pembatalan perjalanan yang sangat drastis.
MakeMyTrip, salah satu perusahaan perjalanan besar di India, menyatakan bahwa jumlah pembatalan meningkat hingga 250 persen. Pemesanan perjalanan baru ke kedua negara juga turun sekitar 60 persen dalam waktu satu minggu.
EaseMyTrip juga mengalami tren serupa. CEO perusahaan, Rikant Pittie, menyebutkan lonjakan pembatalan sebesar 22 persen untuk perjalanan ke Turki dan 30 persen untuk Azerbaijan.
Para wisatawan India kini beralih ke destinasi lain seperti Georgia, Serbia, Yunani, Thailand, dan Vietnam.
Respon Industri Pariwisata India dan Seruan Boikot
Platform perjalanan Ixigo bahkan menghentikan sementara layanan pemesanan tiket dan hotel ke China, Turki, dan Azerbaijan. Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya dampak boikot tersebut.
Founder EaseMyTrip, Nishant Pitti, mempertanyakan kelayakan mendukung pariwisata dan ekonomi negara-negara yang secara terang-terangan mendukung Pakistan. Sentimen ini digemakan oleh banyak pihak di India.
Subhash Goyal, Ketua Komite Pariwisata di Kamar Dagang India, menegaskan pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan dan tanggung jawab moral dalam industri pariwisata.
Ia menyerukan boikot terhadap Turki dan Azerbaijan sebagai respons atas dukungan mereka terhadap Pakistan. Namun, Goyal juga menekankan peran pariwisata sebagai jembatan kerja sama internasional dan perdamaian.
Tahun lalu, lebih dari 287.000 wisatawan India mengunjungi Turki dan sekitar 243.000 mengunjungi Azerbaijan. Angka tersebut menunjukkan potensi kerugian ekonomi yang signifikan bagi kedua negara akibat boikot ini.
Ketegangan geopolitik antara India dan Pakistan, serta dukungan yang diberikan oleh Turki dan Azerbaijan terhadap Pakistan, telah menciptakan gelombang boikot yang berdampak luas pada industri pariwisata. Situasi ini menyoroti kompleksitas hubungan internasional dan dampaknya pada berbagai sektor, termasuk pariwisata.
Ke depan, masih harus dilihat bagaimana situasi ini akan berkembang dan apa dampak jangka panjangnya terhadap hubungan antara India, Pakistan, Turki, dan Azerbaijan. Peran diplomasi dan upaya penyelesaian damai akan sangat krusial dalam meredakan ketegangan dan memulihkan hubungan yang lebih baik di antara negara-negara tersebut.






