Idul Adha, atau yang dikenal juga sebagai Lebaran Haji di Indonesia, merupakan salah satu hari raya besar umat Islam di seluruh dunia. Perayaan ini memiliki makna mendalam dan sejarah yang kaya, terkait erat dengan ibadah haji dan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS.
Berbeda dengan Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan Ramadan, Idul Adha jatuh pada tanggal 10 Zulhijah dalam kalender Hijriah. Perayaan ini bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga merupakan puncak spiritual dari ibadah haji.
Arti Idul Adha dan Sejarahnya
Secara bahasa, “Idul Adha” berasal dari kata “Id” yang berarti “kembali” atau “berulang”, dan “Adha” yang berarti “kurban” atau “penyembelihan”. Jadi, Idul Adha dapat diartikan sebagai hari raya yang berulang setiap tahun, ditandai dengan ibadah kurban.
Sejarah Idul Adha berakar pada kisah Nabi Ibrahim AS yang diuji ketaatannya oleh Allah SWT. Ia diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bukti ketaatan yang tulus.
Nabi Ismail AS menerima perintah tersebut dengan lapang dada, menunjukkan keikhlasan yang luar biasa. Pada saat Nabi Ibrahim hendak melaksanakan perintah tersebut, Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai pengganti.
Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam. Sebagai bentuk ketaatan dan pengabdian kepada Allah SWT, umat Islam menyembelih hewan ternak pada tanggal 10 Zulhijah.
Asal Usul Istilah Lebaran Haji
Di Indonesia, Idul Adha dikenal sebagai Lebaran Haji. Sebutan ini mencerminkan hubungan erat antara hari raya ini dengan ibadah haji di Mekkah.
Puncak ibadah haji adalah wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah. Jamaah haji kemudian melanjutkan ke Muzdalifah dan Mina, termasuk melaksanakan lontar jumrah.
Istilah “Lebaran Haji” menekankan aspek spiritual Idul Adha yang terhubung dengan ibadah haji. Bagi yang tidak menunaikan haji, puasa Arafah pada 9 Zulhijah dianjurkan dan memiliki keutamaan besar.
Puasa Arafah diyakini dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Istilah ini juga menguatkan bahwa Idul Adha bukan hanya tentang kurban hewan, tapi juga pengorbanan jiwa dan harta dalam ibadah haji.
Hikmah Idul Adha
Idul Adha mengandung banyak hikmah dan pelajaran berharga bagi umat Islam. Perayaan ini mengajarkan berbagai nilai penting dalam kehidupan.
Pertama, Idul Adha mengajarkan ketaatan dan ketundukan kepada Allah SWT, seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail AS. Ketaatan kepada Allah harus diutamakan di atas segalanya.
Kedua, Idul Adha menekankan pentingnya keikhlasan dalam beribadah. Ibadah kurban bukan hanya sekadar penyembelihan hewan, tetapi juga suatu bentuk pengorbanan dan berbagi.
Ketiga, Idul Adha mendorong kepedulian sosial melalui pembagian daging kurban kepada yang membutuhkan. Ini mencerminkan semangat kasih sayang, gotong royong, dan keadilan sosial dalam Islam.
Keempat, Idul Adha mengajarkan untuk mengendalikan hawa nafsu dan ego. Kurban menjadi simbol pelepasan keterikatan terhadap duniawi demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kelima, Idul Adha berkaitan dengan penyucian jiwa dan penghapusan dosa. Pelaksanaan ibadah haji dan kurban dengan ikhlas dapat membersihkan jiwa dan membuat seseorang kembali suci.
Sebagai penutup, Idul Adha lebih dari sekadar hari raya. Ia merupakan momen refleksi diri, penguatan iman, dan pengamalan nilai-nilai luhur Islam yang menekankan ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Semoga perayaan Idul Adha selalu membawa berkah dan kebaikan bagi seluruh umat Islam.






