Pebulutangkis ganda campuran China, Huang Dongping, mengalami insiden tak terduga di final Piala Sudirman 2025. Ia harus menerima kartu merah dari wasit. Insiden ini terjadi di tengah pertandingan krusial melawan pasangan Korea Selatan.
Kejadian tersebut menimbulkan kontroversi dan menjadi sorotan publik. Penjelasan resmi mengenai kejadian ini pun menarik perhatian penggemar bulu tangkis dunia.
Kartu Merah Huang Dongping di Final Piala Sudirman
Huang Dongping, berpasangan dengan Feng Yanzhe, bertanding sengit melawan Seo Seung-jae dan Chae Yu-jung di final Piala Sudirman 2025 yang berlangsung di Xiamen Fenghuang Gymnasium pada Minggu, 4 Mei 2025.
Pertandingan berlangsung ketat hingga gim ketiga. Skor imbang 1-1 setelah kemenangan masing-masing pasangan di gim pertama dan kedua.
Di tengah gim ketiga, saat skor masih berjalan ketat, Huang Dongping meminta izin ke toilet. Namun, waktu yang ia habiskan di toilet dianggap terlalu lama oleh wasit.
Akibatnya, wasit memberikan kartu merah kepada Dongping. Keputusan ini memicu protes dari tim China dan Dongping terlihat kecewa dan marah.
Penjelasan Huang Dongping Mengenai Insiden Tersebut
Usai pertandingan, Dongping memberikan klarifikasi mengenai insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa ia sedang mengalami menstruasi.
Walaupun sempat diizinkan untuk ke toilet, waktu yang dibutuhkan lebih lama dari biasanya. Kartu merah yang diterimanya merupakan peringatan kedua untuk tim China.
Meskipun mendapat kartu merah, Dongping dan pasangannya berhasil memenangkan gim ketiga dengan skor 21-15. Kemenangan ini memastikan gelar juara Piala Sudirman 2025 untuk China.
Kemenangan tersebut diraih dengan skor akhir 3-1 atas Korea Selatan. Kekalahan tunggal China hanya terjadi pada sektor tunggal putri, di mana Wang Zhi Yi kalah dari An Se Young.
Dampak Insiden dan Kontroversi yang Muncul
Insiden ini memicu perdebatan di kalangan penggemar bulu tangkis. Banyak yang bersimpati kepada Dongping, memahami bahwa kondisi medis bisa mempengaruhi performa atlet.
Di sisi lain, ada juga yang berpendapat bahwa peraturan harus tetap dipatuhi, terlepas dari kondisi atlet. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang fleksibilitas peraturan dalam situasi darurat medis.
Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden ini. Namun, kejadian ini diharapkan bisa memicu diskusi mengenai bagaimana mempertimbangkan kondisi khusus atlet dalam peraturan pertandingan.
Kejadian ini juga menyoroti pentingnya dukungan dan pemahaman yang lebih baik terhadap atlet perempuan dalam olahraga profesional.
Secara keseluruhan, kemenangan China di Piala Sudirman 2025 tetap menjadi sorotan utama. Namun, insiden kartu merah yang dialami Huang Dongping menambahkan lapisan kompleksitas pada cerita kemenangan tersebut. Semoga kejadian ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak terkait, baik atlet, wasit, maupun penyelenggara.
Insiden ini tentunya menjadi catatan penting dalam sejarah Piala Sudirman, mengingatkan kita pada pentingnya keseimbangan antara sportifitas dan pemahaman terhadap kondisi individu atlet.






