Ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW bukanlah ajaran baru yang menghapuskan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Sebaliknya, Islam menyempurnakan dan melengkapi ajaran-ajaran tauhid yang telah disampaikan oleh para nabi terdahulu, seperti Nabi Adam, Nabi Ibrahim, dan lainnya. Semua ajaran tersebut pada intinya menyerukan umat manusia untuk menyembah Allah SWT yang Esa.
Salah satu contoh nyata kesinambungan ajaran ini adalah ibadah kurban. Ibadah kurban telah ada sejak zaman Nabi Adam AS, meskipun saat itu belum menjadi syariat yang resmi. Kisah Habil dan Qabil menunjukkan adanya praktik kurban yang dilakukan sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan, meski kemudian berujung pada tragedi.
Kisah Habil dan Qabil, yang bersaing memperebutkan Iqlima, saudari perempuan Qabil, menggambarkan awal mula praktik kurban. Nabi Adam AS sebagai ayah mereka, menetapkan cara untuk menyelesaikan perselisihan tersebut yaitu dengan berkurban. Habil yang ikhlas dan mempersembahkan hewan terbaiknya mendapatkan penerimaan dari Allah SWT, sementara Qabil yang tamak dan hanya memberikan hasil bumi yang buruk, kurbannya ditolak.
Sejarah Kurban: Dari Habil dan Qabil hingga Nabi Ibrahim
Meskipun kurban sudah dilakukan sejak zaman Nabi Adam, namun syariat kurban secara resmi baru dimulai pada masa Nabi Ibrahim AS. Kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, merupakan peristiwa penting yang mengawali syariat kurban dalam Islam. Ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS dalam menghadapi ujian ini menjadi teladan bagi umat Islam hingga saat ini.
Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor domba yang besar dan gemuk sebagai pengganti kurban. Peristiwa ini mengajarkan tentang pentingnya ketaatan dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT, serta pengorbanan yang rela dilakukan demi menjalankan perintah-Nya.
Peristiwa penggantian Nabi Ismail dengan domba tersebut mengandung hikmah mendalam yang menunjukkan kasih sayang dan kebijaksanaan Allah SWT. Hewan kurban kemudian menjadi simbol pengorbanan dan ketaatan yang diwajibkan bagi umat Islam yang mampu.
Makna Ibadah Kurban
Ibadah kurban tidak hanya sekedar penyembelihan hewan, tetapi mengandung makna spiritual yang jauh lebih luas. Kurban merupakan bentuk ketaatan dan pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT, merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan, serta sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Daging kurban juga memiliki fungsi sosial yang sangat penting. Sebagian daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, kerabat, dan tetangga. Hal ini menunjukkan nilai kepedulian sosial dan rasa berbagi dalam ajaran Islam.
Ibadah kurban juga mengajarkan nilai pengorbanan dan keikhlasan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Sikap ini sangat penting untuk diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks beribadah maupun dalam kehidupan sosial.
Syariat Kurban dalam Islam
Dalam Islam, syariat kurban dimulai pada tahun ketiga Hijriyah, berbarengan dengan syariat zakat. Hal ini diperkuat oleh Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 2 yang memerintahkan untuk melaksanakan salat dan berkurban. Hadits Rasulullah SAW juga menjelaskan tentang keutamaan melaksanakan ibadah kurban, menunjukkan betapa pentingnya ibadah ini dalam Islam.
Hadits tersebut menjelaskan bahwa tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah SWT daripada mengalirkan darah hewan kurban pada hari raya Idul Adha. Hal ini menunjukkan betapa mulia dan pentingnya ibadah kurban dalam pandangan Islam. Oleh karena itu, pelaksanaan ibadah kurban hendaknya dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.
Selain Al-Qur’an dan Hadits, banyak ulama dan kitab-kitab fikih membahas secara detail tata cara dan hukum pelaksanaan ibadah kurban. Memahami hal tersebut penting untuk memastikan pelaksanaan ibadah kurban sesuai dengan tuntunan agama Islam.
Tata Cara dan Ketentuan Kurban
Dengan memahami sejarah dan makna ibadah kurban, umat Islam diharapkan dapat melaksanakan ibadah ini dengan penuh keikhlasan dan kesadaran, serta dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari kisah-kisah para nabi terdahulu.
Penulis: Bayu Putra
Sumber: nu.or.id dan berbagai sumber lain.





