Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, atau yang akrab disapa Bupati Iron, menjadi sorotan setelah videonya viral di media sosial. Video tersebut memperlihatkan beliau mengusir kapal-kapal yang membawa turis asing di Teluk Ekas.
Aksi tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk anggota DPR dan pelaku wisata. Mereka menilai tindakan Bupati Iron merugikan dan mencoreng citra pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bupati Iron Usir Wisatawan Asing di Teluk Ekas
Dalam video berdurasi 2 menit 8 detik, Bupati Iron terlihat mendatangi para pemandu wisata (boatman) dan turis asing di Teluk Ekas menggunakan perahu. Ia melarang mereka berselancar di area tersebut jika turis tidak menginap di Jerowaru, Lombok Timur.
Bupati Iron terlihat tegas menyampaikan larangan tersebut dalam bahasa Indonesia dan Sasak kepada para boatman. Ia menekankan agar mereka tidak membawa turis asing ke Teluk Ekas jika turis tersebut tidak menginap di Jerowaru.
Latar Belakang Aksi Pengusiran
Sebelum melakukan pengusiran, Bupati Iron telah melakukan rapat koordinasi dengan pelaku wisata di Jerowaru.
Salah satu keluhan utama dalam rapat tersebut adalah rendahnya tingkat hunian kamar penginapan di Jerowaru. Para pelaku wisata mengeluhkan rendahnya okupansi meskipun Teluk Ekas menjadi destinasi selancar yang populer.
Ahmad Zainudin, Manajer Resort Heaven on the Planet Jerowaru, mengungkapkan bahwa para turis seringkali memilih menginap di luar Lombok Timur karena merasa didiskriminasi oleh pemandu wisata dari Lombok Tengah.
Perasaan tidak nyaman dan diskriminasi inilah yang membuat para turis enggan menginap di Jerowaru, meskipun Teluk Ekas menawarkan spot selancar yang menarik.
Reaksi dan Desakan Permintaan Maaf
Aksi Bupati Iron mendapat kecaman luas. Anggota DPR RI Dapil NTB II, Muazzim Akbar, menyesalkan tindakan tersebut.
Muazzim menekankan pentingnya koordinasi dalam memajukan pariwisata NTB dan menyarankan agar masalah terkait wisatawan yang tidak menginap diatasi dengan cara yang lebih baik, bukan dengan pengusiran.
Ia juga menyarankan agar pemerintah daerah memfasilitasi tempat penginapan yang memadai sebelum melarang wisatawan asing.
Muazzim menambahkan bahwa jika tindakan Bupati Iron dianggap merugikan, sebaiknya beliau meminta maaf.
Senada dengan Muazzim, Ketua Sahabat Pariwisata Nusantara (Sapana) Lombok, Rudy, juga mengecam tindakan tersebut. Ia menilai tindakan Bupati Iron keliru dan mencoreng citra pariwisata NTB.
Rudy menekankan bahwa sektor pariwisata tidak seharusnya dibatasi oleh wilayah administrasi. Penyelesaian konflik, menurutnya, harus dilakukan secara bijak dan tertutup, bukan dengan cara mempermalukan di depan wisatawan.
Rudy dan berbagai pihak mendesak Bupati Iron untuk meminta maaf kepada pihak yang merasa dirugikan atas tindakannya.
Kejadian ini menjadi pembelajaran penting tentang pentingnya strategi pariwisata yang inklusif dan berwawasan ke depan, bukan hanya berfokus pada peningkatan okupansi hotel di satu wilayah saja.
Semoga ke depannya, pengelolaan pariwisata di Lombok Timur dan NTB secara keseluruhan dapat lebih terintegrasi dan berkelanjutan.






