Saham Tesla anjlok tajam pada perdagangan Kamis (5/6/2025) waktu setempat, mengalami penurunan hingga 14%. Kejatuhan ini menyebabkan nilai pasar perusahaan milik Elon Musk merosot USD 152 miliar (Rp 2,4 kuadriliun). Ini merupakan pukulan terbesar bagi kapitalisasi pasar Tesla, yang kini berada di bawah USD 1 triliun dan ditutup pada angka USD 916 miliar (Rp 14,8 kuadriliun).
Penyebab utama penurunan ini adalah rencana Presiden AS Donald Trump untuk membatalkan kontrak pemerintah dengan perusahaan-perusahaan yang dipimpin Elon Musk. Keputusan ini menimbulkan gejolak di pasar saham dan menimpa Tesla, meskipun sebelumnya sempat mengalami kenaikan signifikan sebesar 22% di bulan Mei 2025.
Perselisihan Trump-Musk dan Dampaknya terhadap Tesla
Penurunan saham Tesla terjadi setelah bulan Mei yang positif, di mana saham Tesla naik 22% meskipun penjualan cenderung lemah. Musk sendiri telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala Departemen Efisiensi Pemerintahan Trump, atau DOGE.
Ketegangan antara Trump dan Musk semakin meningkat. Trump secara terbuka menyatakan telah meminta Musk untuk mundur dan membatalkan apa yang disebutnya sebagai “Mandat EV” yang memaksa pembelian mobil listrik. Pernyataan Trump ini disampaikan melalui media sosial Truth Social.
Analisis Penurunan Saham Tesla dan Pergerakan Pasar
Saham Tesla telah mengalami penurunan drastis hampir 18% sepanjang minggu ini, disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penentangan Musk terhadap RUU anggaran. Secara tahunan, saham Tesla turun hampir 30%, jauh dari puncaknya di USD 488,54 pada 18 Desember 2024.
Penurunan tajam ini juga berdampak pada pasar saham AS secara keseluruhan. Indeks S&P 500 turun 0,53% dan ditutup pada 5.939,30. Nasdaq Composite juga mengalami penurunan sebesar 0,83%, menutup perdagangan pada 19.298,45. Dow Jones Industrial Average pun ikut melemah, turun 108 poin (0,25%) dan ditutup pada 42.319,74.
Kenaikan Saham Microsoft dan Peringkat Kapitalisasi Pasar
Di tengah penurunan pasar saham, saham Microsoft justru mencatat kinerja yang positif. Saham raksasa perangkat lunak ini naik 0,8%, menutup perdagangan pada USD 467,68.
Kenaikan ini menjadikan Microsoft kembali merebut posisi teratas dunia berdasarkan kapitalisasi pasar, mencapai USD 3,48 triliun. Posisi ini menggeser Nvidia (USD 3,42 triliun) dan Apple (USD 3 triliun). Terakhir kali Microsoft mencatat rekor penutupan pada Juli 2024. Kenaikan saham Microsoft di tahun 2025 mencapai 11%, berbanding terbalik dengan kinerja Nasdaq yang cenderung datar.
Meskipun Microsoft mencatat rekor, penurunan Tesla yang signifikan masih mendominasi sentimen pasar pada hari Kamis. Perselisihan antara Elon Musk dan Donald Trump menjadi faktor utama yang mempengaruhi kinerja saham perusahaan teknologi AS secara umum. Ketidakpastian politik dan ekonomi terus menjadi tantangan bagi pasar saham. Situasi ini diperkirakan akan terus dipantau secara ketat oleh para investor dan analis pasar. Ke depan, perkembangan hubungan antara Trump dan Musk, serta kebijakan pemerintah AS terkait kendaraan listrik, akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pergerakan saham Tesla.






